Cari Blog Ini

Rabu, 13 Juli 2016

Gelar-gelar Penguasa di Masa Lalu

💡📝Gelar - Gelar Penguasa di Beberapa Negara di Masa Lalu

Jika kita membaca al-Quran atau hadits, kadang kita membaca gelar suatu penguasa di suatu negeri. Janganlah kita menganggap itu nama orang, tapi sebenarnya itu adalah gelar bagi penguasa utk wilayah tersebut. Artinya, siapapun yg berkuasa di suatu wilayah tersebut di waktu itu, akan diberi gelar demikian.

Sebagai contoh:

1) anNajasyi ( النجاشي )
Penguasa Habasyah (Ethiopia)

2) Kisraa (. كسرى )
Penguasa Persia

3) Hiraqla (. هرقل  )
Penguasa Romawi

4) Fir'aun (. فرعون )
Penguasa Mesir

(Faidah penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin dalam syarh Shahih Muslim (3/458))

[[ Abu Utsman Kharisman ]]

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom

Minggu, 03 Juli 2016

Ramadhan Bersama Para Ulama Salaf

          Generasi as-salafush shalih mereka adalah orang-orang yang mengetahui betapa berharganya bulan yang penuh barakah ini, mereka melewati bulan tersebut dengan penuh keseriusan dan bersungguh-sungguh untuk melakukan amal shalih dengan mengharapkan ridha Allah dan mengharap ganjaran-Nya. Telah tetap bahwasanya mereka dahulu berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar Allah menyampaikan mereka kembali kepada Ramadhan kemudian mereka juga berdo’a kepada-Nya selama 6 bulan agar Dia menerima amalan-amalan mereka.

          Abdul Aziz bin Abi Daud berkata : “Aku mendapati mereka bersungguh-sungguh dalam beramal shalih. Ketika mereka telah melakukannya, mereka pun ditimpa kekhawatiran, apakah amalan mereka diterima atau tidak.”

          Maka kemarilah wahai saudaraku yang mulia! Kita lihat sebagian keadaan para salaf ketika bulan Ramadhan dan bagaimana semangat, keinginan yang kuat, dan kesungguhan mereka dalam beribadah agar kita bisa berupaya meneladaninya, dan agar kita termasuk orang yang mengerti kedudukan bulan Ramadhan ini sehingga kita pun mau serius beramal shalih padanya.

Pertama : ’Ulama Salaf dan Membaca Al-Quran.

          Ibnu Rajab bekata: Dalam hadits Fathimah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau mengabarkan kepadanya:

أنّ جبريل عليه السلام كان يعارضه القرآن كل عام مرةً وأنّه عارضه في عام وفاته مرتين

Sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam menyimak Al-Qur’an yang dibacakan Nabi sekali pada setiap tahunnya, dan pada tahun wafatnya Nabi, Jibril menyimaknya dua kali. (Muttafaqun ‘Alaihi)

Dan dalam hadits Ibnu Abbas:

أنّ المدارسة بينه وبين جبريل كانت ليلاً

Bahwasanya pengkajian terhadap Al-Qur’an antara beliau dengan Jibril terjadi pada malam bulan Ramadhan. (Muttafaqun ‘Alaihi).

          Hadits ini menunjukkan disunnahkannya memperbanyak membaca Al-Quran pada malam bulan Ramadhan, karena waktu malam terputus segala kesibukan, terkumpul pada malam itu berbagai harapan, hati dan lisan pada malam bisa berpadau untuk bertaddabur, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْءاً وَأَقْوَمُ قِيلاً

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. (Al-Muzammil: 6)

            Bulan Ramadhan mempunyai kekhususan tersendiri dengan (diturunkannya) Al-Qur’an, sebagaimana Allah ta’ala berfirman

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Al-Baqarah: 185) Latha’iful Ma’arif hal. 315.

            Oleh kerena itulah para ’ulama salaf rahimahumullah sangat bersemangat untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadhan, sebagaimana yang dijelaskan dalam Siyar A’lamin Nubala’, di antaranya:

Dahulu Al-Aswad bin Yazid mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan setiap dua malam, beliau tidur antara Magrib dan Isya’. Sedangkan pada selain bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan Al Qur’an selama 6 hari.Al-Imam Malik bin Anas jika memasuki bulan Ramadhan beliau meninggalkan pelajaran hadits dan majelis ahlul ilmi, dan beliau mengkonsentrasikan kepada membaca Al Qur’an dari mushaf.Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri jika datang bulan Ramadhan beliau meninggalkan manusia dan mengkonsentrasikan diri untuk membaca Al Qur’an.Said bin Zubair mangkhatamkan Al-Qur’an pada setiap 2 malam.Zabid Al-Yami jika datang bulan Ramadhan beliau menghadirkan mushaf dan murid-muridnya berkumpul di sekitarnya.Al-Walid bin Abdil Malik mengkhatamkan Al-Qur’an setiap 3 malam sekali, dan mengkhatamkannya sebanyak 17 kali selama bulan Ramadhan.Abu ‘Awanah berkata : Aku menyaksikan Qatadah mempelajari Al-Qur’an pada bulan Ramadhan.Qatadah mengkhatamkan Al-Qur’an pada hari-hari biasa selama 7 hari, jika datang bulan Ramadhan beliau mengkhatamkannya selama 3 hari, dan pada 10 terakhir Ramadhan beliau mengkhatamkannya pada setiap malam.Rabi’ bin Sulaiman berkata: Dahulu Al-Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan sebanyak 60 kali, dan pada setiap bulannya (selain Ramadhan) sebanyak 30 kali.Waki’ bin Al-Jarrah membaca Al-Quran pada malam bulan Ramadhan serta mengkhatamkannya ketika itu juga dan ditambah sepertiga dari Al Qur’an, shalat 12 rakaat pada waktu dhuha, dan shalat sunnah sejak ba’da zhuhur  hingga ashar.Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari mengkhatamkan Al Qur’an pada siang bulan Ramadhan setiap harinya dan setelah melakukan shalat tarawih beliau mengkhatamkannya setiap 3 malam sekali.Al-Qasim bin ‘Ali berkata menceritakan ayahnya Ibnu ‘Asakir (pengarang kitab Tarikh Dimasyqi): Beliau adalah seorang yang sangat rajin melakukan shalat berjama’ah dan rajin membaca Al-Qur’an, beliau mengkhatamkannya setiap Jum’at, dan mengkhatamkannya setiap hari pada bulan Ramadhan serta beri’tikaf di menara timur.

 

Faidah

          Ibnu Rajab Al Hanbali berkata: Bahwasanya larangan mengkhatamkan Al-Quran kurang dari tiga hari itu adalah apabila dilakukan secara terus menerus. Adapun pada waktu-waktu yang terdapat keutamaan padanya seperti bulan Ramadhan terutama pada malam-malam yang dicari/diburu padanya lailatul qadr atau pada tempat-tempat yang memiliki keutamaan seperti Makkah bagi siapa saja yang memasukinya selain penduduk negeri itu, maka disukainya untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an, dalam rangka memanfaatkan (keutamaan) waktu dan tempat tersebut. Ini adalah pendapat Ahmad, Ishaq, dan selainnya dari kalangan ulama’ . (Latha’iful Ma’arif).

 

Kedua : ’Ulama Salaf dan shalat malam (tarawih).

          Shalat tarawih ini merupakan kebiasaan orang-orang shalih, perniagaan kaum mu’minin, dan amalannya orang-orang yang meraih kemenangan. Pada waktu malam orang-orang yang beriman menyendiri dengan Rabbnya, menghadap kepada Penciptanya, mengadukan keadaan mereka seraya memohon kepada-Nya keutamaan-Nya. Jiwa-jiwa mereka berada di antara kedua tangan Pencitanya, beri’tikaf untuk bermunajat kepada Penciptanya. Mereka berupaya mendapat percikan cahaya dari ibadah tersebut, berharap dan bersimpuh diri atas adanya berbagai pemberian dan karunia (dari Rabbnya).

Al-Hasan Al-Bashri berkata : Aku tidak mendapati suatu ibadah pun yang lebih besar nilainya daripada shalat pada pertengahan malam.Abu ’Utsman An-Nahdi berkata: Aku bertamu kepada Abu Hurairah selama 7 hari, maka beliau, istri dan pembantunya membagi malam menjadi 3 bagian, yang satu shalat ini kemudian membangunkan yang lainnya.Dahulu Syaddad bin Aus jika beranjak untuk beristirahat di ranjangnya, kondisinya bagaikan biji yang berada di atas penggorengan (yakni tidak tenang) kemudian berdoa : Ya Allah! Sesungguhnya Jahannam (terus mengancam)! Jangan Engkau biarkan aku tidur. Maka beliau pun bangun dan langsung menuju tempat shalatnya.Dahulu Thawus melompat dari atas tempat tidurnya kemudian langsung bersuci dan menghadap qiblat (melakukan shalat) hingga datang waktu shubuh dan berkata : Mengingat Jahannam akan menghentikan tidurnya para ahli ibadah.Dari As-Saib bin Yazid dia berkata: Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari radhiyallahu ‘anhuma mengimami manusia pada malam Ramadhan (dalam shalat tarawih). Kemudian sang imam membaca 200 ayat, hingga kami bersandar kepada tongkat-tongkat karena lamanya berdiri, tidaklah kami selesai dari shalat kecuali telah mendekati waktu shubuh. (HR. Al-Baihaqi).Dari Malik bin ’Abdillah bin Abi Bakr, dia bekata : Aku mendengar ayahku berkata: Dahulu kami selesai dari shalat malam pada bulan Ramadhan, kami pun bersegera mempersiapkan makan karena takut datangnya waktu shubuh. (HR. Malik dalam Al Muwaththa’).Dari Dawud bin Al-Hushain, dari ‘Abdurrahman bin Hurmuz, dia berkata: Para qari’ (para imam tarawih) dahulu membaca surat Al-Baqarah dalam delapan raka’at. Maka ketika para qari’ (para imam tarawih) membacanya dalam 12 raka’at, orang-orang melihat bahwa para imam tersebut telah meringankan bacaan untuk mereka. (HR. Al Baihaqi)Nafi’ berkata: Dahulu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma tinggal di rumahnya pada bulan Ramadhan. Ketika orang-orang telah pergi dari masjid, beliau mengambil sebuah wadah yang berisi air kemudian keluar menuju masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau tidak keluar dari masjid sampai tiba waktu shalat shubuh di masjid tersebut. (HR. Al Baihaqi)Dari Nafi’ bin ‘Umar bin Abdillah, dia berkata: aku mendengar Ibnu Abi Mulaikah berkata: Dahulu aku pernah mengimami manusia pada bulan Ramadhan, aku membaca pada suatu raka’at surat Alhamdulillahi Fathir (surat Fathir) dan yang semisalnya. Tidak sampai kepadaku bahwa ada seorang pun yang merasa keberatan dengannya. (HR. Ibnu Abi Syaibah)Dari ‘Imran bin Hudair, dia berkata: Dahulu Abu Mijlaz tinggal di sebuah perkampungan, pada bulan Ramadhan, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tujuh hari. (HR. Ibnu Abi Syaibah)Dari Abdush Shamad, dia berkata: Abul Asyhab telah memberitakan kepadaku, dia berkata: Dahulu Abu Raja’ mengkhatamkan Al Qur’an ketika mengimami kami pada sholat malam bulan Ramadhan setiap sepuluh hari.

Sebab-sebab bathiniyah untuk seseorang bisa bangun malam ada empat perkara

Pertama: Selamatnya hati dari hasad terhadap kaum muslimin, selamatnya hati dari kebid’ahan dan sesuatu yang tidak bermanfaat dari perkara duniawi.

Kedua: Senantiasa hatinya terbiasa takut disertai dengan pendek angan-angan.

Ketiga: Mengetahui keutamaan shalat malam.

Keempat: Ini adalah faktor pendorong yang paling mulia, yaitu cinta karena Allah dan kuatnya iman bahwasanya dalam shalatnya tersebut tidaklah dia berucap dengan satu huruf pun melainkan dia sedang bermunajat kepada Rabbnya.

Ketiga : ‘Ulama Salaf dan sifat pemurah dan dermawan ketika menyambut bulan Ramadhan

1. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس بالخير، وكان أجود ما يكون في شهر رمضان، إنّ جبريل عليه السلام كان يلقاه في كل سنة في رمضان حتى ينسلخ فيعرض عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم القرآن، فإذا لقيه جبريل كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود بالخير من الريح المرسلة.

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling pemurah dalam memberikan kebaikan, dan sifat pemurah beliau yang paling besar adalah ketika Ramadhan. Sesungguhnya Jibril biasa berjumpa dengan beliau, dan Jibril ‘alaihis salam senantiasa menjumpai beliau setiap malam bulan Ramadhan sampai selesai (habis bulan Ramadhan), Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan padanya Al Qur’an. Ketika berjumpa dengan Jibril’ alaihissalam, beliau sangat dermawan kepada kebaikan daripada angin yang berhembus. (Muttafaqun ‘Alaihi)

Al-Muhallab berkata: “Dalam hadits tersebut menunjukkan barakahnya beramal kebajikan dan sebagian amalan kebajikan itu akan membuka dan membantu untuk dikerjakannya bentuk amalan kebajikan yang lain. Tidakkah kamu tahu bahwa barakahnya puasa, perjumpaan (Nabi) dengan Jibril, dan dibacakannya Al-Qur’an kepadanya akan menambah kesungguhan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah dan bershadaqah sampai-sampai digambarkan lebih cepat daripada angin yang berhembus.”

Az-Zain bin Al-Munayyir berkata: Yakni semua bentuk kebaikan beliau, baik tatkala dalam kondisi fakir dan butuh maupun dalam kondisi kaya dan berkecukupan merata lebih daripada meratanya air hujan menimpa bumi yang dihembuskan angin.

Ibnu Rajab berkata : Asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata: Yang paling dicintai bagi seseorang adalah semakin bertambah kedermawanannya pada bulan Ramadhan dalam rangka meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan karena kebutuhan manusia agar tercukupi keperluan-keperluan mereka, serta agar mereka tersibukkan dengan ibadah puasa dan shalat dari pekerjaan mereka.”

2- Adalah Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berpuasa dan tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin, namun jika keluarganya menghalangi mereka darinya, maka ia tidak makan pada malam itu. Jika ada seorang peminta datang kepada beliau dalam keadaan beliau sedang makan, beliau mengambil bagiannya dan memberikan kepada si peminta tersebut, beliau pun kembali dan keluarganya telah memakan apa yang tersisa di mangkuk tempat makanan. Maka beliau berpuasa pada pagi harinya dan tidak memakan sesuatu apapun.

3- Yunus bin Yazid berkata: Dahulu Al-Imam Ibnu Syihab rahimahullah jika memasuki bulan Ramadhan, beliau isi bulan tersebut dengan membaca Al-Quran dan memberi makan.

4- Adalah Hammad bin Abi Salamah rahimahullah memberi jamuan berbuka pada bulan Ramadhan kepada 500 orang dan setelah ‘idul fithri beliau memberi masing-masing mereka dengan 500 dirham.

Keempat : Sedikit makan

Ibrahim bin Abi Ayyub berkata : Dahulu Muhammad bin ‘Amr Al-Ghazy pada bulan Ramadhan makan hanya dua kali.Abul ‘Abbas Hasyim bin Al-Qasim berkata : Dahulu aku pernah di sisi Al-Muhtadi (salah satu khalifah Bani ‘Abbas) pada sore hari di bulan Ramadhan, kemudian aku berdiri untuk pergi, maka dia (Al Muhtadi) berkata: duduklah. Maka aku pun duduk, kemudian dia mengimami shalat. Setelah itu dia meminta untuk dihidangkan makanan, maka dihidangkanlah kepada dia satu nampan yang di dalamnya terdapat roti dan tempat yang yang berisi garam, minyak, dan cuka. Kemudian dia mengundangku untuk makan, maka aku pun makan layaknya orang yang menunggu hidangan makanan yang lain. Dia berkata: bukankah besok engkau masih berpuasa? Aku katakan: tentu. Dia berkata: makanlah dan cukupkan makanmu karena tidak ada makanan yang lain selain apa yang kamu lihat ini.

Kelima :  Menjaga lisan, sedikit bicara, menjaga diri dari dusta

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجةٌ في أن يدع طعامه وشرابه

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang haram dan melakukan perbuatan haram, maka Allah tidak butuh kepada jerih payahnya meninggalkan makan dan minumnya. (HR. Al-Bukhari)

Al-Muhallab berkata: Dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa hukum puasa itu adalah menahan diri dari perbuatan keji dan perkataan dusta sebagaimana dia menahan diri dari makan dan minum. Barangsiapa yang tidak menahan dirinya dari perkara-perkara tersebut, maka sungguh hal itu akan mengurangi nilai puasanya, menyebabkan murka Allah dan tidak diterimanya puasa dia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إذا أصبح أحدكم يوماً صائماً فلا يرفث ولا يجهل فإن امرؤٌ شاتمه أو قاتله فليقل: إني صائمٌ إني صائمٌ

Jika pada suatu hari salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah berbuat keji ataupun bertindak jahil, jika ada seseorang yang mencelanya atau memusuhinya, maka katakanlah: aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa. (HR. Muslim)

Al-Maziri berkata -menjelaskan kalimat ‘aku sedang berpuasa’-: mungkin juga yang dimaksud dengannya adalah dia mengajak bicara kepada dirinya sendiri dalam rangka memperingatkan dari perbuatan mencela ataupun bermusuhan.

‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata :

ليس الصيام من الطعام والشراب وحده ولكنه من الكذب والباطل واللغو والحلف

Bukanlah puasa itu sebatas menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi puasa itu menahan diri dari perkataan dusta, perbuatan bathil, sia-sia, dan sumpah yang tidak ada gunanya. (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata :

إنّ الصيام ليس من الطعام والشراب ولكن من الكذب والباطل واللغو

Sesungguhnya puasa itu tidaklah sebatas menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi puasa itu menahan diri dari perkataan dusta, perbuatan batil dan sia-sia. (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Dari Thalq bin Qais, dia berkata: Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu berkata :

إذا صمت فتحفظ ما استطعت

Jika kamu berpuasa, maka jagalah dirimu semaksimal kemampuanmu.

Adalah Thalq ketika berpuasa, dia masuk rumahnya dan tidak pernah keluar kecuali untuk mengerjakan shalat. (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Jika kamu berpuasa, maka jagalah pendengaran, penglihatan, dan lisanmu dari berdusta dan jagalah dirimu dari perbuatan dosa, jangan menyakiti pembantu, wajib atas kamu untuk bersikap tenang, (terlebih) pada saat kamu berpuasa, jangan kamu jadikan hari berbukamu (tidak puasa) dengan hari berpuasamu sama. (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Kitab Ash-Shiyam Bab ‘Perkara yang diperintahkan kepada orang yang berpuasa berupa sedikit bicara dan menjaga diri dari berdusta’, II/422) Dan dari ‘Atha’, dia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Jika kamu berpuasa, maka janganlah bertindak jahil, dan jangan mencaci maki. Jika kamu diperlakukan jahil, maka katakanlah: aku sedang berpuasa. (HR. Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf) Dan dari Mujahid, dia berkata: ada dua perangai yang barangsiapa menjaga diri darinya, puasanya akan selamat, yakni (1) ghibah, dan (2) berdusta. (HR. Ibnu Abi Syaibah) Dan dari Abul ‘Aliyah, dia berkata: Puasa itu akan bernilai ibadah selama pelakunya tidak berbuat ghibah. (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Keadaan salaf terkait dengan waktu

 

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata : Wahai anak Adam! Sesungguhnya kamu itu adalah seperti hari-hari, jika satu hari telah pergi, maka telah hilanglah sebagian dari dirimu.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah juga berkata : Wahai anak Adam! Waktu siangmu adalah tamumu, maka berbuat baiklah kepadanya, karena sesungguhnya jika kamu berbuat baik kepadanya, dia akan pergi dengan memujimu, dan jika kamu bersikap jelek padanya, maka dia akan pergi dalam keadaan mencelamu, demikian juga waktu malammu.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah juga berkata : Dunia itu ada tiga hari: (1) Adapun kemarin, maka dia telah pergi dengan amalan-amalan yang kamu lakukan padanya, (2) adapun besok, mungkin saja kamu tidak akan menjumpainya lagi, (3) dan adapun hari ini, maka ini untukmu, maka beramallah pada saat itu juga.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: Tidaklah aku menyesal terhadap sesuatu sebagaimana menyesalku ketika pada hari yang matahari telah tenggelam sementara umurku berkurang padahal amalanku tidak bertambah pada hari itu.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Menyia-nyiakan waktu itu lebih buruk daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu itu memutuskan kamu dari Allah dan negeri akhirat, sementara kematian itu memutuskan kamu dari dunia dan penghuninya.

As-Suri bin Al-Muflis rahimahullah berkata: Jika kamu merasa sedih karena hartamu berkurang, maka menangislah karena berkurangnya umurmu.

Penutup

          Kita memohon kepada Allah agar menyampaikan kita kapada Ramadhan, dan agar Allah menerima amalan-amaln kita, puasa kita, shalat malam kita, dan mudah-mudahan Allah membebaskan kita dari An Nar. Allahumma Amin.

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

 وصلى الله على نبينا محمد صلى الله عليه وسلم وعلى آله وأزواجه وصحبه ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين

         

The post Ramadhan Bersama Para Ulama Salaf appeared first on Situs Resmi Ma'had As-Salafy.

Read full article at http://mahad-assalafy.com/2016/06/28/ramadhan-bersama-para-ulama-salaf/

Kamis, 30 Juni 2016

WAJIB MENYANDARKAN FAEDAH ILMIYYAH KEPADA PENGUCAPNYA

🔹🌖🔺🌖🔹
❗WAJIB MENYANDARKAN FAEDAH ILMIYYAH KEPADA PENGUCAPNYA

Kenapa kita menuntut orang agar menyebutkan referensi (sumber/ rujukan)?

Verifikasi Terhadap Dalil, Menyebutkan Referensi dan Menisbatkan Perkataan Kepada Pengucapnya

Berkata al-Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullah ;

"Dikatakan; Sesungguhnya termasuk daripada barakahnya ilmu adalah menyandarkan sesuatu (dari faedah ilmiyyah) kepada pengucapnya"

Jaami' Bayaanil 'Ilmi wa Fadhlih; 2/922

--------------------
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ;

"Maka barangsiapa hendak menukil satu ucapan dari suatu kelompok (orang), hendaknya dia menyebutkan nama pengucapnya dan penukilnya. Jika tidak demikian, maka setiap orang sanggup untuk berdusta"

Minhaju Sunnah: 2/518

--------------------
Berkata Ibnul Mubarak rahimahullah ;

"Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena adanya sanad, niscaya setiap orang akan berbicara (dalam agama) apa yang dia mau"

Al-Majruhin: 1/181

--------------------
Berkata al-Imam an-Nawawi rahimahullah ;

"Dan termasuk dari nasehat adalah menyandarkan faedah yang berbobot kepada pengucapnya.

Barang siapa berbuat demikian, niscaya teberkahi usaha dan kondisi (diri)nya.

Dan barang siapa yang menyamarkannya dan menyamarkan pada apa yang dia ambil dari ucapan selainnya (agar terkesan) sebagai ucapannya, maka sudah sepantasnya untuk tidak terambil manfaat dari ilmunya dan tidak pula teberkahi dalam kondisi (diri)nya"

Bustanul 'Arifin: 29

--------------------
Berkata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin  rahimahullah ;

"Kita saat ini hidup dimasa banyak orang berbicara tanpa ilmu. Karenanya wajib atas setiap orang untuk tidak bersandar kepada sembarang fatwa kecuali dari seorang (ulama) yang dikenal dan tepercaya"

Liqo'al Baabil Maftuh: 16/32

--------------------
Versi Teks Arab

🔺لماذا نطالب الناس بذكر المصدر؟🔺

"التثبت من الأدلة وذكر المصدر ونسب الكلام إلى قائله"
 
✍▪قال الإمام ابن عبد البر رحمه الله :
( يقال إن من بركة العلم أن تضيفَ الشيء إلى قائله ) .

📚الجامع (٢/٩٢٢) .
 
✍▪قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله (فمن اراد ان ينقل مقالة عن طائفة فليسم القائل والناقل ، وإلا فكل أحد يقدر على الكذب )

📚منهاج السنة /(518/2)
 
✍▪قال ابن المبارك -رحمه الله- :
( الإسناد من الدين ولولا الإسناد
لقال مَنْ شاء ما شاء )

📚المجروحين (1/181)].
 
✍▪قال الإمام النووي رحمه الله : 
( ومن النّصيحة أن تضاف الفائدة الّتي تستغرب إلى قائلها ، فمن فعل ذلك بورك له في علمه وحاله ، ومن أوهم ذلك وأوهم فيما يأخذُ من كلام غيره أنه له ، فهو جدير أن لا يُنْتفَع بعلمه ، ولا يباركُ له في حاله )

📚بستان العارفين ص 29

✍▪قال العثيمين رحمه الله : 
( إننا في عصر كٓثُر فيه المتكلمون بغير علم ، ولهذا يجب على الإنسان ألا يعتمد على أي فتيا إلا من شخص معروف موثوق ).

📚لقاء الباب المفتوح ( 16/32)

--------------------
Alih Bahasa : 📝 Al ustadz Syafi'i al Idrus hafizhahullah
📝 Forum Ahlussunnah Ngawi 📚
🔻🔻🔻🔻🔻🔻
🎯 Majmu'ah Ashhaabus Sunnah
🚀 ©hannel telegram : http://bit.ly/ashhabussunnah
➖➖➖➖➖➖

Minggu, 26 Juni 2016

Kisah Penggugah Jiwa : Abu Qilabah Al-Jarmiy

*Kisah Penggugah Jiwa : Abu Qilabah Al-Jarmiy*

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Setiap bani adam yang hidup di dunia ini tentunya mengharapkan sebuah kebahagian. Benar bukan? Lalu, bagaimana cara mendapatkannya?

Imam Ibnul Qoyyim dalam “Waabilush Shoyyib” juga Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab dalam risalah “Qowa’idul Arba’” menyebutkan bahwa pokok kebahagiaan ada tiga: ketika diberi bersyukur, ketika diuji bersabar dan jika salah beristighfar.

Semoga kisah Abu Qilabah ini bisa memberi inspirasi buat kita tentang makna syukur dan sabar, bidznillah.

Beliau adalah ‘Abdulloh bin Zaid, ulama kesohor yang disegani oleh ulama’ lain semasa beliau. Keilmuan dan akhlak beliau begitu agung hingga beliau diminta untuk menjadi Qodhi.

Apakah beliau menerimanya? Tidak. Ilmunya yang tinggi membuat beliau takut akan sebuah jabatan. Atau beliau takut akan ditanya pertanggung jawabannya di hari kiamat. Apapun itu beliau lari dan terus berlari dari jabatan yang menghantuinya, menjauh menghindari keramaian manusia.

Hingga pada suatu hari . . .

Biarkan ‘Abdulloh bin Muhammad yang mengkisahkannya. Al Imam Ibnu Hibban dalam kitab “Ats Tsiqat” membawakan sebuah sanad sampai kepada ‘Abdulloh bin Muhammad, beliau berkata;

Ketika itu aku ditugaskan murobathoh (menjaga daerah perbatasan kaum muslimin) di tepi sebuah pantai, bernama Aresy Mishr. Sesampainya di sana tiba-tiba aku berada di sebuah pesisir pantai yang luas. Aku berusaha menelusurinya. Berjalan dan terus menelusuri hingga aku menemukan sebuah kemah.

Sebentar kuperhatikan, kedua mataku mendapati sebuah tubuh yang amat memprihatinkan. Kedua tangannya putus.. kedua kakinya juga. Pendengaran dan penglihatannya juga tak berfungsi dengan normal. Hampir-hampir ia tak mempunyai anggota badan yang normal kecuali lisannya.

Kulipat gandakan fokus mataku dan memang hanya lisannya yang berfungsi normal. Dia berdoa, “ya Allah, berilah aku kekuatan untuk dapat memuji-Mu. Puji-pujian yang dapat menunaikan rasa syukurku atas segala kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan padaku. Sungguh Engkau telah melebihkanku atas kebanyakan makhluk yang Kau ciptakan.”

Demi Allah, aku harus mendatanginya, bisikku dalam hati. Apa gerangan sebab doanya itu? Apakah ia memahami dan mengetahui yang diucapkannya, atau hanya ilham semata?

Dengan langkah pasti kudekati sosok tubuh itu.
“Assalamualaikum,” kucoba memulai.

“Aku tadi mendengar doamu. Gerangan apa yang membuatmu berdoa seperti itu? Nikmat apa yang telah engkau dapatkan hingga engkau sangat memuji-Nya? Keutamaan apa yang telah engkau peroleh hingga engkau mensyukuri-Nya?” lanjutku memberinya pertanyaan bertubi-tubi. Siapa yang tidak terheran-heran dengan doanya. Padahal tubuhnya begitu memprihatinkan.

“Apa kau tidak melihat perlakuan Rabb-ku kepadaku. Demi Allah, seandainya saja Ia mengirim halilintar yang membakar tubuhku, atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku sehingga hancur tubuhku, atau menitahkan laut untuk menenggelamkanku, atau menyuruh bumi menelanku, semua itu hanya akan menambah tekadku bersyukur kepada-Nya semakin kuat, karena nikmat lisan yang Ia anugrahkan padaku,” terangnya.

“Wahai, hamba Allah!” serunya padaku. Seperti ia ingin sesuatu hal.

“Karena engkau telah mendatangiku, bolehkah aku meminta bantuanmu. Engkau telah melihat keadaanku ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa melindungi diri dari mara bahaya. Aku pun tak bisa memberi manfaat untuk diriku sendiri. Aku memiliki seorang anak yang selalu melayaniku. Jika waktu sholat tiba, dia mewudhukan aku. Jika aku lapar, dia menyuapiku. Dan jika aku haus, dia memberiku minum. Namun entah kemana dia sekarang. Aku telah kehilangannya selama tiga hari. Tolonglah aku, carikanlah kabarnya untukku, semoga Allah merahmatimu,” pintanya memelas. “Demi Allah, tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan saudaranya melainkan akan mendapatkan ganjaran yang besar di sisi-Nya. Apalagi jika orangnya seperti engkau,”
Aku memenuhi permintaannya.

Aku berusaha menguatkan tekad untuk membantunya, melangkahkan kaki mencari tahu tentang anaknya. Sambil berjalan, aku menyelami pikiranku. Tentang orang tua tadi, juga anaknya.

Tiba-tiba, sontak lamunanku berhenti mengikuti langkah kakiku. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Itu anaknya! Itu anaknya! Tewas diterkam dan dimakan binatang buas.

Bagaimana aku mengatakan kepada orang tadi? Berat nian deritanya.

Dengan berat hati aku berusaha mengayunkan langkah. Ku ayunkan kembali ke kemah, tempat orang tadi. Walau pahit tuk dikatakan, namun ini harus. Tapi juga harus dengan cara yang tepat. Ku berusaha memutar otak bagaimana cara mengatakannya.

Seiring langkah kaki yang terus bertambah, pikiranku juga terus memacu. Berpikir dan terus mencari.

Dan akhirnya.. Nabi Ayyub ‘alaihis salam! Aku teringat Nabi Ayyub ‘alaihis salam. Mungkin ini cara yang tepat.

Aku pun bergegas. Sesampainya di sana,

“Assalamualaikum,” salamku.

“Wa’alaikum salam,” jawabnya.

“Bukankah engkau yang tadi menemuiku,” dia melanjutkan.

“Iya,” jawabku.

“Bagaimana dengan permintaanku. Apakah engkau telah mendapatkan kabarnya?” tanyanya. Aku pun berusaha menjelaskan,

“Di sisi Allah, engaku kah yang lebih mulia atau Nabi Ayyub?”

“Tentu Nabi Ayyub ‘alaihis salam,” jawabnya.

“Tahukah engkau cobaan yang Allah timpakan kepada Nabi Ayyub? Bukankah Allah menguji beliau pada harta, keluarga dan putranya?”

“Benar.”

“Bagaimana sikap beliau menghadapi ujian tersebut?”

“Beliau bersabar, bersyukur dan memuji Allah subhanahu wa ta’ala.”

“Tidak sampai di situ. Beliau juga ditinggal karib kerabat dan sahabatnya bukan?”

“Benar.”

“Bagaimana sikap beliau menghadapinya?”

“Beliau tetap bersabar, bersyukur dan tak jemu memuji Allah subhanahu wa ta’ala.”

“Tidak cukup sampai di situ. Beliau juga jadi bahan pembicaraan setiap orang yang lewat di jalan. Benar bukan?”

“Iya. Aku tahu.”

“Bagaimana sikap beliau?”

“Beliau selalu bersabar, bersyukur dan bertahmid memuji Allah subhanahu wa ta’ala.”

Sepertinya ia mulai paham arah pembicaraanku.

“Semoga Allah merahmatimu. Langsung saja jelaskan maksudmu,” pintanya.

Dengan sangat berat aku mengatakannya, “Aku telah menemukan putramu. Aku menemukannya di antara gundukan pasir.. tewas diterkam binatang buas. Semoga Allah melipatgandakan pahalamu.. semoga Allah menyabarkanmu.”
(Subhanalloh! Tak ada keluhan yang keluar dari lisannya. Tak ada kekecewaan yang tersirat dari kalbunya. Justru yang terucap hanyalah tahmid kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sebagai simbol relief yang telah terpahat dalam kalbunya.
Alhamdulillah. Iya. Hanya “alhamdulillah” yang keluar dari bibirnya. Subhanalloh!)

‘Abdulloh bin Muhammad melanjutkan,-pent ~~~
“Alhamdulillah, Dia tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepada-Nya sehingga Dia menyiksanya dengan api neraka,” kata orang tadi begitu mendengar berita yang kubawa.
“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un,” kalimat thoyyibah terus terangkai elok dari bibirnya mengikuti kalimat thoyyibah sebelumnya. Ia pun menarik napas dalam-dalam menghayati kenikmatan Allah yang tiada tara banyaknya. Seakan-akan musibah yang baru saja menimpanya juga sebuah nikmat yang harus dibalas dengan ucapan “alhamdulillah”.
Ia terus menghayati mengikuti aliran napas yang keluar. Dan saat napas benar-benar keluar, ternyata itu adalah nafas terakhirnya.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un!

Besar nian musibahku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Jika aku biarkan jasad mulia ini, tentu binatang buas akan memakannya. Namun jika aku pergi, siapa yang akan menjaga jasadnya.

Aku pun hanya bisa menyelimuti dengan kain yang ada di tubuhnya. Selebihnya, tubuhku hanya duduk terpaku di dekat kepalanya. Merenungi peristiwa luar biasa yang mewarnai lembaran kehidupanku hari ini. Tak terasa butiran-butiran air mata menetes membasahi pipi.

Tiba-tiba datanglah empat orang dan bertanya, “Abdulloh, ada apa denganmu? Apa yang terjadi?”

Aku ceritakan kisah indah nan mengharukan ini kepada mereka dari awal sampai akhir.

“Tolong bukalah kain ini, kiranya aku mengenalnya,” kata salah seorang mereka.

Begitu aku menyingkapnya, tiba-tiba mereka tersungkur berebut mencium keningnya. Aku pun kaget dan terheran-heran melihatnya. Sepertinya orang ini punya jasa besar kepada mereka.
“Wallahi, matanya selalu tunduk dari memandang perkara haram. Wallahi, tubuhnya selalu sujud saat orang-orang terlelap dalam mimpi,” kata salah seorang mereka mengenangnya.
“Semoga Allah merahmati kalian. Siapa orang ini?” benar-benar rasa penasaranku sampai puncak.

“Abu Qilabah Al Jarmi, sahabat Ibnu ‘Abbas. Sungguh dia sangat mencintai Allah dan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam,” terang salah seorang dari mereka.

Akhirnya, kami pun memandikan dan mengkafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolati dan menguburkannya.

Seusainya, mereka kembali pulang. Aku juga menuju pos penjagaanku di daerah perbatasan.

Saat malam tiba, saat aku tidur.. tiba-tiba aku terseret ke dimensi lain. Aku berada di sebuah taman . . .

Ini.. ini sebuah taman. Namun ini bukan taman biasa. Ini taman surga.

Saat mata masih sibuk meyakinkan aku berada dimana, justru mata menangkap sosok yang sepertinya tak asing, memakai dua kain yang begitu indah, kain surga. Ia menghiasi bibirnya dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Ar Ra’d:24

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار

“Salaamun ‘alaikum” (kesejahteraan bagi kalian) karena kesabaran kalian. Sungguh kampung terakhir yang paling indah adalah jannah.

Aku pun menghampirinya.

“Engkaukah itu?” tanyaku meyakinkan kalbu.

“Benar,” nampak cahaya terpancar dari wajahnya.

“Ini semua.. bagaimana kau mendapatkannya?” tanyaku lagi.

“Sungguh allah mempunyai derajat-derajat yang tak akan bisa diraih kecuali dengan sabar saat ujian menyapa dan syukur saat lapang datang, dengan tetap menggelorakan rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala saat sendiri atau bersama.”

________oo00oo________

Begitulah Abu Qilabah menutup lembaran hidupnya di dunia. Dan begitulah cara Abu Qilabah membuka lembaran hidupnya di akherat. Semoga kisah ini tak hanya menjadi sebuah objek bidikan mata semata. Namun lebih dari itu, semoga dari tatapan mata akan terus mengalir dan mengisi setiap celah di ruang kalbu dan himmah kita, kemudian dapat diterjemahkan dengan baik oleh seluruh anggota tubuh kita. Amin

Dan tentunya, yang paling berhak mengamalkannya adalah penulis, hamba yang penuh dosa dan cacat ini.

Terakhir, Rabbana.. anugrahkanlah ampunan kepada kami juga saudara-saudara kami yang terlebih dahulu beriman dari kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian kepada orang-orang beriman merasuk dalam kalbu kami. Duhai Rabb, Kau-lah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

_daarul_hadith_bil_fuyush_

_akhukum fillah_yahya_el_windany_

WA Thullab Al Fiyusy

http://appsalafy.salafymedia.com/arsip/2089

Jumat, 24 Juni 2016

INTROSPEKSI DIRI DI PENGHUJUNG BULAN SUCI

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah subhanahu wata’ala. Berjumpa dengan bulan suci Ramadhan merupakan kesempatan yang sangat berharga tiada terkira. Betapa tidak. Allah subhanahu wata’ala telah membuka lebar-lebar pintu rahmat dan ampunan-Nya di bulan tersebut. Beruntung sekali orang yang mendapatkan taufik untuk bisa mengisi bulan penuh barokah ini dengan berbagai amal kebaikan.

Para pembaca yang semoga mendapatkan limpahan barokah dari-Nya. Di penghujung bulan suci ini, di tengah-tengah kesibukan menyongsong hari raya Idul Fitri, perkenankanlah kami mengajak diri kami sendiri dan juga saudara-saudara kami umat Islam untuk sejenak bermuhasabah, mengoreksi diri, melihat iman dan amalan kita, apa yang sudah kita persembahkan kepada Allah subhanahu wata’ala, Sang Pencipta dan Pemberi nikmat yang tak terhingga ini? Apakah yang selama ini kita perbuat sudah cukup untuk mendatangkan ridha-Nya? Memang setiap insan beriman hendaknya senantiasa berbenah, menata kembali niat dan amalannya agar cita-cita menggapai ridha Allah subhanahu wata’ala tercapai.Kami termotivasi mengajak saudara sekalian untuk introspeksi diri di penghujung bulan suci ini, tidak lain karena teringat sebuah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang berbunyi,

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ

“Betapa hinanya seseorang ketika namaku disebut di sisinya namun ia tidak bershalawat kepadaku. Betapa hinanya seseorang yang masuk padanya bulan Ramadhan, lalu ketika bulan tersebut berlalu ia belum mendapatkan ampunan. Betapa hinanya seseorang ketika ia mendapati masa senja kedua orang tuanya namun hal itu tidak bisa membuatnya ia masuk surga.” (HR. Ahmad no. 7139, dan At-Tirmidzi no. 3468)

Hadits ini membuat kita khawatir, jangan-jangan kita termasuk golongan orang-orang yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya tersebut. Ramadhan berlalu sia-sia begitu saja, kosong dan hampa dari ampunan-Nya. Bagaimana tidak khawatir? Manusia itu tempatnya salah dan dosa, termasuk kita. Rasa-rasanya setiap desahan nafas, kedipan mata, ayunan tangan, dan langkah kaki selalu saja berbuah dosa. Belum sempat rasanya memohon ampun dari dosa yang lalu, sudah terjatuh ke dalam dosa yang baru.

Namun kekhawatiran itu jangan berlarut sehingga membuat kita putus harapan. Ingatlah! bahwa Allah Maha Pemurah. Kasih sayang-Nya mengalahkan kemurkaan-Nya. Sebesar dan sebanyak apapun dosa manusia, Allah Maha Mampu dan Berkehendak untuk menghapusnya jika hamba tersebut bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya.

Para pembaca rahimakumullah. Di hari-hari terakhir bulan Ramadhan ini, setidaknya ada dua hal yang patut menjadi bahan introspeksi kita bersama, yaitu

Pertama, sudahkah kita memperbanyak taubat dan memohon ampun kepada Allah?

Kedua, sudahkah kita berupaya menghidupkan dengan maksimal sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan ketaatan dan ibadah?

Bertaubat dan Banyak Memohon Ampun Kepada-Nya

Para pembaca yang berbahagia, seiring dengan banyaknya dosa dan kesalahan, maka banyak bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya merupakan sebuah kemestian. Seorang mukmin itu melihat dosa-dosanya laksana sebuah gunung yang berada di atas kepalanya, setiap saat gunung itu akan runtuh membinasakan siapa saja yang berada di bawahnya.

Para pembaca rahimakumullah, apakah taubat cukup dilakukan dengan mengucapkan kalimat istighfar? Astaghfirullah, aku memohon ampun kepada Allah, sekedar itu saja?

Jawabannya: Belum cukup! Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya, Riyadhush Shalihin, menukilkan perkataan para ulama bahwa taubat itu memiliki tiga syarat, yaitu meninggalkan perbuatan maksiat tersebut, menyesalinya, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi selama-lamanya. Satu syarat tidak terpenuhi, gugurlah nilai taubat seseorang. Ini apabila kemaksiatan tersebut terkait dengan hak Allah saja.

Namun apabila dosa dan kemaksiatannya terkait dengan hak orang lain, seperti mencuri, menjatuhkan kehormatan orang lain, dan sebagainya, maka untuk bertaubat darinya harus terpenuhi ketiga syarat tadi, dan ditambah syarat keempat yaitu mengembalikan hak orang lain yang ia zhalimi tadi, seperti mengembalikan uang/barang yang sempat ia curi, meminta maaf atau kehalalan orang yang pernah ia jatuhkan kehormatannya, dan sebagainya. (lihat penjelasan Al-Imam An-Nawawi dalam Bab At-Taubah dari kitab Riyadhush Shalihin).

Biasanya, bulan Ramadhan dijadikan momen untuk meninggalkan kebiasaan buruk yang lazim dilakukan di luar bulan Ramadhan. Saat yang tepat untuk bertaubat. Demikianlah kurang lebih ungkapan yang terbetik di benak sebagian orang.

Hal itu bagus. Namun alangkah lebih bagusnya jika meninggalkan perbuatan maksiatnya itu bersifat kontinyu, terus menerus, tidak pernah sekalipun mengulangi perbuatanya. Apalah artinya ia meninggalkan kemaksiatan dan kebiasaan buruknya di bulan Ramadhan, namun ia sudah berniat mengulanginya kembali selepas Ramadhan nanti?

Benar-benar tidak terpuji sikap seperti itu. Bahkan, apabila seseorang yang “bertaubat” dan meninggalkan perbuatan dosa di bulan Ramadhan dengan niat akan melakukan dosa itu lagi nanti pasca Ramadhan, maka orang itu belum terhitung bertaubat, karena belum memenuhi syarat-syaratnya sebagaimana yang telah dijelaskan.

Orang yang bertaubat adalah orang yang benar-benar serius meninggalkan perbuatan maksiatnya secara total.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Ali Imran: 135)

Taubat yang benar adalah taubat yang diiringi dengan amal shalih sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala (artinya),

“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (Al-Furqan: 71)

Di bulan suci ini, ibadah puasa adalah salah satu dari sekian bentuk amal shalih yang paling utama.

Di samping puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang akan menguatkan dan mengokohkan agama seorang muslim, puasa juga mengantarkan seseorang untuk meraih ampunan Allah. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (artinya),

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena didasari keimanan dan harapan untuk meraih pahala, maka ia akan mendapatkan ampunan atas dosa yang dilakukan dahulu.” (HR. Al-Bukhari no. 1768, dan Muslim no. 1268)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa puasa Ramadhan yang membuahkan ampunan adalah puasa yang dalam pelaksanaannya didasarkan pada dua hal: imanan wa ihtisaban (keimanan dan harapan). Imanan maknanya adalah mengimani dan meyakini kebenaran syariat puasa dan keutamaannya, sedangkan ihtisaban maknanya adalah mengharapkan pahala dari Allah subhanahu wata’ala semata, bukan tujuannya ingin pamer kepada orang lain atau niatan lain yang menunjukkan ketidakikhlasan dalam beribadah. (lihat Syarh Shahih Muslim karya Al-Imam An-Nawawi rahimahullah)

Para pembaca, dari sini, marilah kita mengkoreksi puasa kita masing-masing. Jika kita merasa puasa kita selama ini belum didasari dua hal di atas, maka janganlah putus asa. Mudah-mudahan Ramadhan yang masih tersisa beberapa hari ini menjadi kesempatan untuk memperbaiki puasa kita.

10 Hari yang Dinanti

Para pembaca yang semoga dimuliakan oleh Allah subhanahu wata’ala, di tengah kesibukan menyongsong datangnya lebaran, alangkah mulianya jika kita benar-benar mengoptimalkan hari-hari terakhir Ramadhan dengan amal ibadah. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh junjungan dan teladan kita, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

“Ketika tiba 10 hari terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya dengan shalat dan ibadah yang lainnya, serta tidak lupa beliau  membangunkan keluarganya.” (HR. Al-Bukhari no. 1884 dan Muslim no. 1174). Sebuah contoh nyata dari rumah tangga ideal, bahagia, dan sejahtera di dunia akhirat. Betapa indahnya apabila setiap keluarga meneladani beliau shallallahu alaihi wasallam.

Dalam rentang sepuluh hari ini, ada satu malam yang keutamaannya lebih baik daripada seribu bulan selain bulan Ramadhan. Dialah Lailatul Qadar. Amalan yang dikerjakan pada malam tersebut lebih baik dan lebih utama dibandingkan amalan serupa yang dilakukan selama seribu bulan selain bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda (artinya),

“Barangsiapa yang menghidupkan dan mendirikan shalat pada malam Lailatul Qadar, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Al-Bukhari no. 1768 dan Muslim no. 1268)

Walaupun Lailatul Qadar itu terjadinya pada malam ganjil, namun seseorang yang berupaya mencari Lailatul Qadar hendaknya menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan semuanya, tidak dikhususkan pada malam yang dimungkinkan terjadinya Lailatul Qadar saja.

Kepastian kapan dan pada malam ke berapa Lailatul Qadar terjadi, hanya Allah subhanahu wata’ala yang tahu. Di antara hikmah tidak diketahuinya secara pasti waktu Lailatul Qadar tersebut adalah agar setiap hamba secara terus menerus semakin memperbanyak amalannya dalam rangka mencari Lailatul Qadar di malam-malam yang penuh kemuliaan tersebut dengan shalat, dzikir, dan do’a. Sehingga akan semakin bertambahlah kedekatan mereka kepada Allah ta’ala dan bertambah pula pahala yang akan diraihnya. (Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin)

Kalau waktu terjadinya Lailatul Qadar diketahui, pada malam ke-21 misalnya, maka bisa jadi pada malam-malam yang tersisa, seorang hamba akan bermalas-malasan, tidak semangat dalam beribadah dan menambah timbangan kebaikannya.

Semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang meraih ampunan-Nya. Amin.

Wallahu A’lam Bishshawab

Penulis: Ustadz Abu Abdillah hafizhahullah.

Buletin Al-Ilmu Edisi no. 36/VIII/XIV/1437 H

The post INTROSPEKSI DIRI DI PENGHUJUNG BULAN SUCI appeared first on Situs Resmi Ma'had As-Salafy.

Read full article at http://mahad-assalafy.com/2016/06/24/introspeksi-diri-di-penghujung-bulan-suci/

Kamis, 23 Juni 2016

MENJAMAK SHALAT KARENA KHAWATIR TERLEPAS KEMASLAHATAN SHALAT BERJAMAAH

--------------------
✅ MENJAMA' KARENA KHAWATIR TERLEPAS KEMASLAHATAN SHALAT BERJAMA'AH

▶ Berkata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ;

"Menjama' (shalat) tidak terbatas sebabnya hanya safar semata. Akan tetapi safar merupakan salah satu sebab dari sebab-sebab jama'. Disana terdapat sebab-sebab lain selain safar yang seseorang bisa menjama' (shalat)nya.

Diantaranya apa yang disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma saat memberitakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjama' (shalat) di Madinah bukan karena takut atau pun karena hujan.

Maka (Ibnu Abbas) radhiyallahu 'anhu ditanya, "Kenapa beliau melakukan hal tersebut ?". (Ibnu Abbas) menjawab, "Beliau tidak ingin memberatkan umat". Yaitu Beliau tidak ingin membebani umat perkara yang memberatkan mereka.

Berdasarkan hal ini, disaat mana meninggalkan jama' itu akan memberatkan atau menyulitkan umat, maka boleh untuk menjama' ..."

Beliau rahimahullah juga menyatakan :

"Dan ketahuilah, sebagaimana menjama' itu diperbolehkan saat ada hajat, demikian pula (diperbolehkan) saat (dikhawatirkan) terlewatkan kemaslahatan shalat berjama'ah. Apabila jama'ah akan berpisah dan tidak shalat berjamaah, maka boleh bagi mereka menjama'..."

🖥 Sumber: http://binothaimeen.net/content/7872

--------
🇲🇨 Versi Teks Arabic 🇸🇦

قال الشيخ ابن العثيمين رحمه الله:

فالجمع لا يقتصر سببه على السفر وحده، بل السفر سبب من أسباب الجمع، وإلا فهناك أسباب أخرى غير السفر يجمعها ماذكره ابن عباس رضي الله عنهما حين أخبر أن النبي صلى الله عليه وسلم جمع في المدينة من غير خوف ولا مطر، فسئل رضي الله عنه لما صنع ذلك فقال: أراد ألا يحرج أمته. أي: أراد ألا يوقعها في الحرج. وعلى هذا فمتى كان في ترك الجمع حرج ومشقة فإنه يجوز الجمع....

ويقول أيضا:

واعلم أن الجمع كما يكون عند الحاجة إليه يكون أيضاً بفوات مصلحة الجماعة، فإذا كان هؤلاء الجماعة سيتفرقون ولا يصلون جماعة فإن لهم الجمع....

----------
📝 Alih Bahasa : Al Ustadz Syafi'i al Idrus hafizhahullah
📝 Forum Ahlussunnah Ngawi 📚
🔻🔻🔻🔻🔻🔻
🎯 Majmu'ah Ashhaabus Sunnah
🚀 ©hannel telegram : http://bit.ly/ashhabussunnah
➖➖➖➖➖➖

Sayyidul Istighfar

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Ar Rifa’i

Termasuk dzikir yang utama dan doa yang barokah yang sepantasnya bagi setiap muslim untuk menjaganya dan membacanya disetiap pagi dan sore hari adalah yang telah datang dalam shahih Al Bukhari dari haditsu Syadad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alahi wa Sallam bahwasannya beliau bersabda :

سيد الاستغفار أن تقول

(Sayyidul Istighfar adalah engkau mengatakan) :

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَ أَنَا عَبْدُكَ وَ أَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَ وَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَ أَبُوْءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

” Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu (yaitu selalu menjalankan perjanjian-Mu untuk beriman dan ikhlas dalam menjalankan amal ketaatan kepada-Mu) dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang bisa mengampuni segala dosa kecuali Engkau”.

من قالها من النهار موقنا بها فمات من يومه قبل أن يمسي فهو من أهل الجنة و من قالها من الليل و هو موقن بها فمات قبل أن يصبح فهو من أهل الجنة . ‌

Barangsiapa mengucapkannya disiang hari dalam keadaan yakin dengannya kemudian dia mati pada hari itu sebelum sore hari, maka dia termasuk penduduk surga dan siapa yang mengucapkannya di waktu malam hari dalam keadaan dia yakin dengannya, kemudian dia mati sebelum shubuh maka ia termasuk penduduk surga.” (HR. Al-Bukhari – Fathul Baari 11/97)

Ini adalah doa yang agung yang mencakup banyak makna : taubat, merendahkan diri kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan kembali menghadap kepada-Nya. Nabi Shalallahu ‘alahi wa Sallam menamainya sebagai Sayyidul Istighfar (penghulu istighfar), yang demikian itu dikarenakan ia melebihi seluruh bentuk istighfar dalam hal keutamaan. Dan lebih tinggi dalam hal kedudukan.
Diantara makna sayyid adalah orang yang melebihi kaumnya dalam hal kebaikan dan yang berkedudukan tinggi dikalangan mereka.

Sisi lebih dari keutamaan doa ini dibanding bentuk istighfar yang lain adalah :

– Nabi Shalallahu ‘alahi wasallam mengawalinya dengan pujian kepada Allah dan pengakuan bahwa dirinya adalah hamba Allah sebagai makhluk ciptaan-Nya (penetapan Tauhid Ar Rububiyyah), Dan bahwa Allah adalah Al Ma’buud (sesembahan) yang haq dan tiada sesembahan yang haq yang selainNya. Maka Dia adalah satu-satunya yang berhak dibadahi dan ini merupakan realisasi Tauhid Al Uluhiyyah.

– Pernyataannya bahwa ia senantiasa tegak diatas janji dan kokoh diatas ikatan berupa iman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, seluruh nabi dan rasul-Nya. Menjalankan segenap ketaatan kepada Allah dan perintah-Nya. Ia akan menjalaninya sesuai kemampuan dan kesanggupannya.

– Kemudian ia berlindung kepada Allah Subhanahu dari seluruh kejelekan apa yang telah dia perbuat, baik sikap kurang dalam menjalani apa yang Allah wajibkan baginya yaitu mensyukuri nikmat-Nya ataupun berupa perbuatan dosa.

– Kemudian ia mengakui akan nikmat Allah yang terus datang beruntun dan anugerah-Nya serta pemberian-Nya yang tiada pernah berhenti.

– Dan ia mengakui atas dosa-dosanya, sehingga iapun lantas memohon ampunan kepada Allah Suhhanahu wa Ta’ala dari itu semua dengan segenap pengakuannya bahwa tiada yang bisa mengampuni segala dosa kecuali Allah Suhhanahu wa Ta’ala.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135)

“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui.” (Al Imran : 135)

Ini adalah paling sempurna apa yang ada pada sebuah doa. Karena itu ia menjadi seagung-agungnya bentuk istighfar dan yang paling utama dan paling mencakup untuk kandungan maknanya yang mesti akan diampuni dosa-dosa.

Kemudian Nabi Shalallahu ‘alahi wa Sallam menghakhiri penyebutan doa tersebut dengan menjelaskan pahala yang besar dan ganjaran yang luar biasa yang akan didapat oleh orang yang menjaga doa tersebut setiap pagi dan sore hari. Maka Beliau Shalallahu ‘alahi wa Sallam mengatakan :

“Barangsiapa mengucapkannya disiang hari dalam keadaan yakin dengannya kemudian dia mati pada hari itu sebelum sore hari, maka dia termasuk penduduk surga dan siapa yang mengucapkannya di waktu malam hari dalam keadaan dia yakin dengannya, kemudian dia mati sebelum shubuh maka ia termasuk penduduk surga.”

Hanyalah Seorang yang mengucapkan doa ini dan menjaganya yang akan memperoleh janji yang mulia dan pahala serta ganjaran besar nan utama ini, karena ia telah membuka harinya dan menutupnya dengan penetapan Tauhidullah baik Rububiyyah-Nya dan Uluhiyyah-Nya. Dan pengakuan dirinya sebagai hamba yang siap menghamba dan persaksiannya terhadap anugerah dan nikmat Allah. Pengakuannya dan kesadarannya akan kekurangan-kekurangan dirinya dan permohonan maaf dan ampunan dari Dzat yang Maha Pengampun, diiringi dengan rasa tunduk dan rendah dihadapan-Nya untuk senantiasa patuh dan taat kepada-Nya. Ini semua merupakan cakupan makna yang utama dan sifat yang mulia yang ia buka dan tutup lembaran siangnya. Yang pantas bagi orang yang mengucapkan dan menjaganya mendapat maaf dan ampunan, terbebas dari neraka dan masuk surga.

Wallahu a’lam bisshowab.

Kita memohon kepada Alloh Yang Maha Mulia berupa keutamaan dan anugerah-Nya.

(Lihat kitab Fiqhul Ad’iyyah wal adzkar II/17-20. As Syaikh Abdur Rozaq bin abdil Muhsin Al Badr. ) Diringkas oleh Muhammad Ar Rifa’i)

WA al I’tishom

Read full article at http://salafy.or.id/blog/2016/06/23/sayyidul-istighfar/