Cari Blog Ini

Minggu, 22 Mei 2016

Jima' sebelum shalat jumat

○~~~~~~~~~~~~~~~~○
   🕌 FAEDAH JUM'AT 🕌
○~~~~~~~~~~~~~~~~○

🌷 JIMA' DI HARI JUM'AT 🌷

💬 عن أوس بن أوس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال من غسل واغتسل وغدا وابتكر ودنا من الإمام ولم يلغ كان له بكل خطوة عمل سنة صيامها وقيامها .

💬 Dari Aus bin Aus bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda

🚿 "Barang siapa yang memandikan dan mandi dan dia berangkat pagi-pagi, bergegas lalu mendekat kepada imam dan tidak melakukan yang sia-sia, maka baginya pada setiap langkahnya, amalan puasa dan qiyamul lail setahun."

📚 H.R. Nasa`i (Shahih Nasa`i 1381)

▫📚📚📚▫

💬 Ibnu Katsir (3/680), Al-Bajiy (1/235) dan Zamakhsyari (3/66) berkata :

memandikan =  غسل 🚿
👉🏼 Maknanya menurut banyak ulama adalah jima' dengan istrinya.

💬 Ibnu Hajar berkata (2/366),
👉🏼 Pada hadits tersebut bermakna jima', karena dengan jima' sebelum shalat Jum'at maka akan membantu seseorang untuk menundukkan pandangannya serta menenangkan dirinya (sehingga dapat mendengar khutbah dengan baik).

💐 👍🏼 Fal hamdu lillah 'alas-sunnah, amalan ringan dengan pahala besar.

Wallahu akbar wallahu a'lam.

◇◇◇🍃🍏🍃◇◇◇

✍🏼 Diterjemahkan oleh Al-Ustadz Usamah bin Faishal Mahri hafizhahullah pada hari Jum'at, 16 Jumadil Akhir 1437 H / 25 Maret 2016 M

◇◇◇◇🚿💦🚿💦🚿◇◇◇◇

http://annisaa.salafymalangraya.or.id
http://bit.ly/NisaaAsSunnah
🎀 Nisaa` As-Sunnah 🎀
🔻🔻🔻🔻🔻🔻
🎯 Majmu'ah Ashhaabus Sunnah
🚀 ©hannel telegram : http://bit.ly/ashhabussunnah
➖➖➖➖➖➖

•••••••
🖲 Majmu'ah AL ISTIFADAH
🌍 http://bit.ly/tentangwalis
🛰 Telegram http://bit.ly/alistifadah JOIN
📲 مجموعة الاستفادة

☄☄☄☄☄☄☄☄☄

Read full article at http://walis-net.blogspot.com/2016/05/jima-di-hari-jum.html

Sabtu, 21 Mei 2016

Keutamaan Memperbanyak Bersholawat kepada Nabi pada Hari Jumat

📗Keutamaan Memperbanyak Bersholawat kepada Nabi pada Hari Jumat

عن أوس بن أوس : عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ عَلَيْهِ السَّلام ، وَفِيهِ قُبِضَ ، وَفِيهِ النَّفْخَةُ ، وَفِيهِ الصَّعْقَةُ ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلاةِ فَإِنَّ صَلاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ -أَيْ يَقُولُونَ قَدْ بَلِيتَ- قَالَ : إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ حَرَّمَ عَلَى الأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الأَنْبِيَاءِ

Dari Aus bin Aus dari Nabi shollallaahu alaihi wasallam : Sesungguhnya hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam alaihissalam diciptakan. Pada hari itu Adam meninggal. Pada hari itu tiupan sangkalala (kiamat). Pada hari itu berjatuhanlah makhluk (karena mendengar tiupan sangkakala). Maka perbanyaklah sholawat kepadaku (pada hari itu), karena sholawat kalian akan disampaikan kepadaku. Sahabat Nabi bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana bisa sholawat (kami) disampaikan kepada anda padahal (jasad) anda telah ditelan (tanah) ? Nabi shollallaahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla mengharamkan tanah untuk memakan jasad para Nabi (H.R Abu Dawud, dishahihkan Syaikh al-Albaniy).

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom

————— ————— —————
((📘)) WA AL ISTIQOMAH // WALIS | http://walis-net.blogspot.com/p/depan.html | Channel telegram » https://telegram.me/alistifadah
((📌)) مجموعة الاستقامة
🔲🔲🔲——————————

KIAT AGAR REZEKI BAROKAH

📕💐 KIAT AGAR REZEKI BAROKAH

❓Pertanyaan:

Afwan Ustadz, Ana minta tausiyah kiat rezeki kita barokah. Jazakallah khoiron

✅Jawab:

✔️Pertama, yakinlah bahwa sumber rezeki itu dari Allah semata. Dialah Yang Maha Berkuasa untuk melapangkan rezeki seorang hamba atau menyempitkannya.

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ

Allahlah yang melapangkan rezeki bagi yang dikehendakinya dan Dialah yang menyempitkan (rezeki) (Q.S ar-Ra’d:26)
Karena itu berdoalah kepadanya agar dikaruniai rezeki yang halal dan barokah.

Bebeberapa contoh Sunnah Nabi dalam dzikir dan doa yang beliau ajarkan, di antaranya:

1. Setelah selesai sholat Subuh, bacalah doa ini: Allaahumma Inni As-aluka ‘ilman Naafi’an wa rizqon thoyyiban wa ‘amalan mutaqoobalaa (Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima).

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ إِذَا صَلَّى الصُّبْحَ حِينَ يُسَلِّمُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

Dari Ummu Salamah, bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam mengucapkan (doa) pada saat sholat Subuh selesai salam: Allaahumma Inni As-aluka ‘ilman Naafi’an wa rizqon thoyyiban wa ‘amalan mutaqoobalaa (H.R Ibnu Majah, dishahihkan Ibn Hibban dan al-Albany)

2. Saat keluar dari masjid berdoa meminta agar dibukakan fadhilah (karunia) dari Allah, dengan membaca doa: Bismillah wassalaamu ‘alaa rosulillah Allaahummaghfir lii dzunuubiy waftahlii abwaaba fadhlika (Dengan Nama Allah, dan semoga keselamatan untuk Rasulullah. Ya Allah ampunilah dosa-dosaku dan bukalah pintu-pintu karuniaMu)

عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَقُولُ بِسْمِ اللَّهِ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَإِذَا خَرَجَ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ

Dari Fathimah bintu Rasulullah shollallahu alaihi wasallam beliau berkata: Adalah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam jika masuk masjid beliau mengucapkan: Bismillah, wassalaamu ‘alaa rosuulillah Allahummaghfir lii dzunuubiy waftahlii abwaaba rohmatik.  Dan ketika keluar mengucapkan : Bismillah wassalaamu ‘alaa rosulillah Allaahummaghfir lii dzunuubiy waftahlii abwaaba fadhlika (H.R Ibnu Majah, dishahihkan al-Albany)

✔️Kedua, bersemangatlah dalam mencari rezeki yang halal. Pastikan rezeki yang kita terima berasal dari yang dihalalkan Allah, serta bertawakkal kepada Allah.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

هَذَا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ جِبْرِيلُ نَفَثَ فِي رَوْعِي أَنَّهُ لاَ تَمُوتُ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا ، وَإِنْ أَبْطَأَ عَلَيْهَا ، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَأْخُذُوهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

Ini adalah utusan Tuhan semesta alam (Jibril) meniupkan pada jiwaku bahwasanya tidaklah suatu jiwa mati hingga disempurnakan rezekinya. Meski dilambatkan kedatangannya. Bertaqwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari (rezeki). Jangan sampai lambatnya kedatangan rezeki menyebabkan engkau melakukan kemaksiatan kepada Allah. Karena tidaklah (boleh) didapatkan (rezeki) yang ada di sisiNya kecuali dengan ketaatan kepadaNya (H.R al-Bazzar no 2914, Ibnu Abid Dunya, dishahihkan Syaikh al-Albany)

لَا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ، فَإِنَّهُ لَنْ يَمُوتَ الْعَبْدُ حَتَّى يَبْلُغَهُ آخِرُ رِزْقٍ هُوَ لَهُ، فَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ: أَخَذِ الْحَلَالِ، وَتَرَكِ الْحَرَامِ

Janganlah menganggap lambat datangnya rezeki. Karena tidaklah seorang hamba meninggal hingga disampaikan kepadanya akhir rezeki untuknya. Maka perbaguslah dalam mencari (rezeki): mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram (H.R Ibnu Hibban dan al-Hakim, disepakati keshahihannya oleh adz-Dzahaby).

✔️Ketiga, bersikaplah qonaah, menerima pemberian Allah dengan ridha.

إِنَّ الله يَبْتَلِي عَبْدَهُ بِمَا أَعْطَاهُ ، فَمَنْ رَضِيَ بِمَا قَسَمَ الله لَهُ بَارَكَ لَهُ ، وَمَنْ لَمْ يَرْضَ بِمَا قَسَمَ الله لَهُ لَمْ يُبَارِكْ لَهُ

Sesungguhnya Allah menguji hambaNya dengan pemberianNya. Barangsiapa yang ridha terhadap apa yang Allah bagikan untuknya, ia akan diberkahi. Barangsiapa yang tidak ridha dengan apa yang Allah bagikan untuknya, ia tidak akan diberkahi (H.R Ahmad, dishahihkan al-Albany dalam as-Shahihah)

✔️Keempat, bersyukur atas pemberian Allah. Gunakan nikmat itu untuk beribadah kepadaNya, tidak untuk bermaksiat kepadaNya.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

dan ketika Tuhan kalian mengumumkan bahwa jika kalian bersyukur sungguh Aku akan tambah (nikmat) bagi kalian dan jika kalian kufur, sesungguhnya adzabKu sangat pedih (Q.S Ibrohim ayat 7)

✔️Kelima, perbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah serta berusaha menjauhi perbuatan dosa.

Istighfar dan taubat untuk menghapus dosa, sedangkan dosa adalah penyebab terhambatnya rezeki.

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

Sesungguhnya seseorang terhalangi dari rezekinya disebabkan dosa yang diperbuatnya (H.R Ahmad, Ibnu Majah, dishahihkan al-Hakim dan Ibnu Hibban, disepakati keshahihannya oleh adz-Dzahaby, dihasankan oleh al-Iraqy).

✔️Keenam, sambunglah silaturrahmi dengan orangtua dan karib kerabat dengan cara yang sesuai syar’i.

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barangsiapa yang suka untuk dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan usianya hendaknya menyambung silaturrahmi (H.R al-Bukhari dari Anas bin Malik)

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom

————— ————— —————
((📕)) MAJMU'AH AL ISTIFADAH | http://walis-net.blogspot.com/p/depan.html | Channel telegram » https://telegram.me/alistifadah
((📌)) مجموعة الاستفادة
🔲🔲🔲——————————

Jumat, 20 Mei 2016

TRANSKRIP TERJEMAHAN CERAMAH SYAIKH KHOLID ADZ-DZHOFIRI HAFIZHAHULLAH

💐🔊TRANSKRIP TERJEMAHAN CERAMAH SYAIKH KHOLID ADZ-DZHOFIRI HAFIDZHAHULLAH (Bag ke-1)

(23 Shafar 1437 H/ 04 Desember 2015)

<< Telelink dengan Beliau via Telpon pada jam 21.00 waktu Singapura/ 20.00 Waktu Indonesia Bagian Barat >>

(setelah beliau membaca muqoddimah/ Khutbatul Haajah)

Hayyaakumullah (semoga Allah menghidupkan anda sekalian (dalam kebaikan)) wahai saudaraku seluruhnya yang sebagiannya di Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Aku meminta kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala agar mengokohkan kita semua di atas Sunnah. Dan semoga Allah mengumpulkan kita di Jannah (Surga) yang penuh dengan kenikmatan.

Di antara amalan sholih yang disebutkan dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi shollallaahu alaihi wasallam yang seseorang bisa mendekatkan dirinya kepada Rabbnya Subhaanahu Wa Ta’ala adalah ilmu, mempelajari ilmu, tafaqquh fiddiin. Karena sesungguhnya hal ini akan menghasilkan pahala yang sangat besar dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Padanya terdapat kebaikan yang banyak, penyebutan yang baik, akibat yang terpuji bagi siapa yang mengikhlaskan niatnya untuk Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. ….

Nash-nash al-Quran dan Sunnah menunjukkan kedudukan ibadah ini dan keutamaannya. Hingga seseorang menjadi Ahlul Ilmi. Ia mempelajari ilmu hingga Allah membukakan untuknya kebaikan yang banyak ketika ia menjadi Ahlul Ilmi. Karena Allah Azza Wa Jalla dengan kemulyaan ilmu menjadikan mereka sebagai pemberi persaksian atas keesaanNya (Tauhid), yaitu Laa Ilaaha Illallaah. Ini adalah persaksian yang terbesar.

Allah Azza Wa Jalla berfirman:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Allah bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Dia, demikian juga bersaksi Malaikat dan orang Ahlul Ilmi (Ulama), menegakkan persaksian itu dengan adil. Tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Hikmah (Q.S Aali Imran ayat 18)

Allah menjadikan persaksian Malaikat dan para Ulama terhadap keesaan (Tauhid) Allah. Para Ulama adalah orang-orang yang mengetahui tentang Allah. Orang-orang yang mengetahui tentang agamaNya. Mengetahui tentang RasulNya shollallahu alaihi wasallam. Mereka takut kepada Allah dan terus merasa diawasi oleh Dia. Mereka berhenti pada batasan-batasan Allah. Karena itu Allah mensifatkan mereka adalah Ahlul Khosy-yah (orang-orang yang takut kepada Allah dengan mengetahui keagungan Allah, pent). Mereka takut (khouf) kepada Allah Azza Wa Jalla. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Hanyalah yang takut (dengan mengetahui keagungan) Allah dari para hambaNya adalah para Ulama (Q.S Faathir ayat 28)

Telah dimaklumi bahwa setiap muslim takut kepada Allah. Setiap orang beriman takut kepada Allah. Akan tetapi perasaan takut (khosy-yah) yang sempurna hanyalah milik Ahlul Ilmi. Pimpinan Ahlul Ilmi adalah para Rasul alaihimussholaatu wassalaam. Kemudian yang setelah itu adalah para Ulama sesuai tingkatan mereka. Para Ulama terbaik dari umat ini adalah para Shahabat Nabi alaihissholaatu wassalaam.

Terdapat (nash-nash) tentang keutamaan ilmu, (di antaranya) hadits Muawiyah radhiyallahu anhu dalam Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Muslim) bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan kepadanya, Allah akan faqihkan (pahamkan) ia tentang (ilmu) Dien

Hadits ini menunjukkan bahwa termasuk tanda kebaikan dan tanda kebahagiaan seseorang adalah mendapatkan kefaqihan (pemahaman Dien) dari Allah. Setiap penuntut ilmu yang ikhlas kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala sama saja apakah di Universitas, Ma’had, Markaz, atau halaqoh ilmu melalui radio-radio Salafiyyah, tidak diragukan lagi bahwa ini termasuk yang Allah inginkan pada mereka kebaikan. Maka aku meminta kepada Allah taufiq dan hidayah untukku dan untuk anda sekalian.

<< Bersambung, InsyaAllah…>>

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom

————— ————— —————
((📕)) MAJMU'AH AL ISTIFADAH
💐🔊TRANSKRIP TERJEMAHAN CERAMAH SYAIKH KHOLID ADZ-DZHOFIRI HAFIDZHAHULLAH (Bag ke-2- selesai)

(23 Shafar 1437 H/ 04 Desember 2015)

<< Telelink dengan Beliau via Telpon pada jam 21.00 waktu Singapura/ 20.00 Waktu Indonesia Bagian Barat >>

Menempuh perjalanan menuntut ilmu termasuk penyebab menuju Surga. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala akan memudahkan baginya jalan menuju Surga. Allah akan melindungi dia dari fitnah-fitnah syubuhaat dan syahwaat. Sebagaimana sabda Nabi kita shollallahu alaihi wasallam dari hadits Abud Darda’ yang dikeluarkan Ash-haabus Sunan:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانِ فِي الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ

Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. dan sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi para penuntut ilmu sebagai bentuk keridhaan atas perbuatan mereka.  Dan sesungguhnya seluruh yang ada di langit dan di bumi sampai sekalipun ikan di lautan akan memohonkan ampunan bagi orang yang berilmu. Dan sesungguhnya keutamaan seorang ‘Alim terhadap orang yang ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang.

Di akhir hadits tersebut selanjutnya disebutkan bahwa barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka ia telah mengambil warisan para Nabi.

Sebagaimana Nabi alaihissholaatu wassalaam bersabda:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya para Ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham. Yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Barangsiapa yang mengambil dari ilmu itu, maka ia telah mengambil bagian yang sangat banyak

Dan yang menunjukkan akan hal itu disebutkan dalam (atsar) dari Ibnu Mas’ud (*) radhiyallahu Ta’ala anhu bahwa ia datang ke orang-orang di pasar yang sibuk dengan urusan dunia. Maka beliau berkata kepada mereka: Sesungguhnya warisan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam sedang dibagikan di masjid. Ambillah bagian darinya! Maka manusia bersegera menuju masjid menyangka bahwa akan ada pembagian (harta) dunia. Mereka masuk ke masjid tidak mendapatkan yang diinginkan hingga kembali ke Ibnu Mas’ud dan berkata kepada beliau: Kami tidak mendapatkan ada pembagian (harta warisan) di masjid. Beliau berkata: Apa yang kalian dapatkan di sana? Kami mendapati di masjid ada kaum yang membaca al-Quran, ada yang mempelajari ilmu, sebagian kaum membaca Sunnah. Maka beliau berkata: Celaka kalian, itu adalah warisan Nabi shollallahu alaihi wasallam. Barangsiapa yang mengambil bagian darinya, ia akan mengambil bagian yang sangat banyak.

Mempelajari dan menempuh jalan dalam menuntut ilmu adalah termasuk ibadah yang terbesar yang semestinya bagi Shohibu Sunnah dan para pencari alhaq mengerahkan segenap upayanya dalam menuntut ilmu dan menggunakan waktunya untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya. Hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam mempelajari aqidah, yang merupakan ilmu yang paling agung, yaitu Tauhid.

Hendaknya ia membaca Kitabut Tauhid dan penjelasan-penjelasan (syarh) Ulama tentangnya, dan juga kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sesuai tingkatan keilmuan yang sesuai baginya. Hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam mempelajari hadits seperti Arbain anNawawiyyah, mengambil faidah darinya. Membaca kitab-kitab Mustholah (hadits) dan dalam fiqh…juga mempelajari ilmu-ilmu alat. Ilmu itu sangat luas. Jika engkau mengerahkan seluruh bagian darimu, ilmu itu akan memberikan sebagian darinya.

Kita hendaknya mengetahui bahwa ilmu adalah penyebab keselamatan dari fitnah-fitnah pada kehidupan kaum muslimin. (Ilmu) meredam (fitnah) syahwat, juga fitnah syubuhaat berupa hawa nafsu dan kebid’ahan. Fitnah-fitnah syu
buhat dari orang-orang kafir. Ilmu menjadikan seseorang mengetahui tentang Allah dan agamaNya. Hal itu menjadi sebab ia selamat dari fitnah-fitnah. Hingga (jika ia berilmu) bisa menjadi penyebab yang menghilangkan fitnah-fitnah dari manusia. Sebagaimana yang telah disebutkan tentang hadits tentang keutamaan para Ulama:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus (dari dada manusia) akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan Ulama. Hingga jika tidak tersisa orang alim lagi, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya kemudian berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Ahlul Ilmi yang menempuh jalan al-haq (kebenaran) akan memperingatkan dari fitnah-fitnah tersebut. Demikian juga para penyeru pada kesesatan (justru akan berusaha menyebarkan fitnah-fitnah itu).
Di antara penyebab mendapatkan ilmu adalah ikhlas karena Allah. Maka wajib bagi kita untuk mengikhlaskan menuntut ilmu karena Allah. Jangan kita menuntut ilmu untuk berdebat dengan manusia. Jangan menuntut ilmu karena mencari pujian manusia hingga mereka berkata bahwa orang ini berilmu atau pandai baca al-Quran (Qori’). Harusnya kita menuntut ilmu karena Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Aku tutup dengan kalimat ini…Ucapan al-Imam Yahya bin Abi Katsir rahimahullah: “Ilmu tidaklah bisa didapatkan dengan tubuh yang santai (bermalas-malasan)”. Maka kita harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Terus berusaha mengisi waktu dan umur kita untuk menghilangkan ketidaktahuan dalam diri kita. Ini adalah termasuk tujuan dan ibadah yang paling agung. Aku meminta kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala agar Dia memberikan taufiq kebaikan kepada kita, dan agar Dia menolong kita untuk senantiasa mengikuti petunjuk Rasulullah shollallahu alaihi wasallam, dan semoga Allah menjadikan kita sebagai para penuntut ilmu…dan agar Allah menjadikan amalan kita ikhlas untuk mengharapkan WajahNya Yang Mulya. Aku meminta kepada Allah taufiq dan kekokohan kepadaku dan kepada anda sekalian.

Allaahu A’lam, washollallaahu wasallama ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad

📚📝Catatan Kaki dari penerjemah:

(*) Syaikh Kholid hafidzhahullah menyebutkan bahwa itu adalah ucapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, sedangkan dalam atsar riwayat atThobaroniy disebutkan bahwa itu adalah Abu Hurairah radhiyallahu anhu.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ مَرَّ بِسُوْقِ الْمَدِيْنَةِ فَوَقَفَ عَلَيْهَا فَقَالَ يَا أَهْلَ السُّوْقِ مَا أَعْجَزَكُمْ قَالُوْا وَمَا ذَاكَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ ذَاكَ مِيْرَاثُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقْسَمْ وَأَنْتُمْ هَا هُنَا أَلَا تَذْهَبُوْنَ فَتَأْخُذُوْنَ نَصِيْبَكُمْ مِنْهُ قَالُوْا وَأَيْنَ هُوَ قَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَخَرَجُوْا سُرَاعًا وَوَقَفَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ لَهُمْ حَتَّى رَجَعُوْا فَقَالَ لَهُمْ مَا لَكُمْ فَقَالُوْا يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَدْ أَتَيْنَا الْمَسْجِدَ فَدَخَلْنَا فِيْهِ فَلَمْ نَرَ فِيْهِ شَيْئًا يُقْسَمُ فَقَالَ لَهُمْ أَبُوْ هُرَيْرَةَ وَمَا رَأَيْتُمْ فِي الْمَسْجِدِ أَحَدًا قَالُوْا بَلَى رَأَيْنَا قَوْمًا يُصَلُّوْنَ وَقَوْمًا يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ وَقَوْمًا يَتَذَاكَرُوْنَ الْحَلَالَ وَالْحَرَامَ فَقَالَ لَهُمْ أَبُوْ هُرَيْرَةَ وَيْحَكُمْ فَذَاكَ مِيْرَاثُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- bahwasanya beliau melewati pasar Madinah, kemudian berhenti. Beliau berkata: Wahai orang-orang di pasar, apa yang membuat kalian lemah (tidak bersemangat)? Orang-orang di pasar itu berkata: Ada apa wahai Abu Hurairah? Abu Hurairah menyatakan: Itu warisan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dibagikan, tapi kalian ada di sini. Tidakkah kalian pergi ke sana dan mengambil bagian kalian darinya? Mereka berkata: Di mana itu (pembagiannya)? Abu Hurairah menyatakan: Di masjid. Maka mereka segera pergi dengan cepat. Abu Hurairah berdiri menunggu
mereka. Hingga mereka kembali dan Abu Hurairah berkata: Apa yang terjadi pada kalian? Mereka berkata: Wahai Abu Hurairah, kami telah mendatangi masjid kemudian masuk ke dalamnya, kami tidak melihat ada sesuatupun yang dibagikan. Abu Hurairah berkata kepada mereka: Tidakkah engkau melihat ada orang di masjid? Mereka berkata: Ya. Kami melihat ada kaum yang sholat, ada kaum yang membaca al-Quran, ada kaum yang mempelajari halal dan haram. Maka Abu Hurairah berkata kepada mereka: Celaka kalian, itulah warisan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam (riwayat atThobaroniy dalam al-Mu’jamul Awsath, dihasankan Syaikh al-Albaniy dalam Shahih atTarghib wat Tarhiib)

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom

————— ————— —————
((📕)) MAJMU'AH AL ISTIFADAH » http://walis-net.blogspot.com/p/depan.html || Channel telegram » http://bit.ly/1MY9qnP
مجموعة الاستفادة

🔲🔲🔲((🔴))🔲🔲🔲

TATA CARA MERAPATKAN SHAF MENURUT PENJELASAN SYAIKH IBN UTSAIMIN

📗TATA CARA MERAPATKAN SHAF MENURUT PENJELASAN SYAIKH IBN UTSAIMIN

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan:

Para Sahabat Nabi –semoga Allah meridhai mereka- jika berdiri di dalam shaf, salah seorang dari mereka menempelkan mata kakinya ke mata kaki saudaranya dan pundaknya pada pundak saudaranya yang demikian untuk 2 tujuan:

Tujuan pertama: benar-benar meluruskan (shaf)

Tujuan kedua: menutup celah (antar makmum).

Bukanlah menempelkan mata kaki dengan mata kaki sebagai tujuan inti. Tetapi ada tujuan yang lain, yaitu benar-benar lurus dan rapat. Atas dasar ini, nampak jelaslah bahwa apa yang dilakukan sebagian manusia saat ini yang melebarkan (jarak) antar dua kakinya dan membengkokkan kaki supaya mata kaki saling bersentuhan (dengan makmum di sampingnya), ini tidak ada asalnya.

Para Sahabat tidaklah mengatakan: Seseorang (dari kami) melebarkan (jarak) antar kedua kakinya hingga mata kakinya menyentuh mata kaki saudaranya. Tapi mereka (para Sahabat) berkata: Sesungguhnya mereka saling rapat hingga salah seorang dari mereka mata kakinya menyentuh  mata kaki saudaranya.

Akan tetapi sebagian manusia tidak cermat dalam memahami nash-nash sehingga mengetahui apa yang dimaksud. Tidak mungkin seseorang mengklaim bahwa makna (yang benar) adalah hendaknya seseorang melebarkan (jarak) kakinya sehingga jarak bagian atas tubuh (antar makmum) akan berjauhan. Ini tidak mungkin. Tidak ada seorangpun yang mengatakan demikian (al-Liqaa’ asy-Syahri (4/224))

🇸🇦Teks Asli:

كان الصحابة رضي الله عنهم إذا قاموا في الصف يلصق أحدهم كعبه بكعب صاحبه ومنكبه بمنكبه وذلك لغرضين: الغرض الأول: تحقيق المساواة. والغرض الثاني: سد الفرج. وليس إلصاق الكعب بالكعب مقصوداً لذاته، بل هو مقصود لغيره، وهو تحقيق المساواة والتراص، وبناءً على ذلك: يتبين أن ما يفعله بعض الناس الآن من كونه يفرج بين رجليه ويحنف الرجل من أجل أن تتلاصق الكعاب لا أصل له، فالصحابة لم يقولوا: كان الرجل يفرج بين رجليه حتى يمس كعب صاحبه، بل قالوا: إنهم يتراصون حتى إن أحدهم ليمس كعبه كعب صاحبه. لكن بعض الناس لا يتأنى في فهم النصوص حتى يعرف المراد، وإلا فلا يمكن أن يدعي أحد أن المعنى: أن الرجل يفرج رجليه، ويبقى أعلى البدن متباعداً، هذا غير ممكن، ولا أحد يقول بهذا (اللقاء الشهري 4-224)

Alih bahasa : Abu Utsman Kharisman

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom

————— ————— —————
((📕)) MAJMU'AH AL ISTIFADAH » http://walis-net.blogspot.com/p/depan.html || Channel telegram » https://telegram.me/alistifadah
((📌)) مجموعة الاستفادة

🔲🔲🔲((🔴))🔲🔲🔲

Yang sunnah dalam sholatnya dua orang ketika berjamaah

🔵 Yang sunnah dalam sholatnya dua orang ketika berjamaah 🌿

🔆 Berkata Al allamah Ibnu Utsaimin رحمه الله :

🎋 Yang sunnah, hendaknya makmum itu berdiri disebelah kanannya orang yang sholat (imam),
🎋 Dan pada keadaan demikian maka keduanya berdiri sejajar.
🎋 Tidaklah imam itu berdiri lebih maju dari pada si makmum
🎋 Karena keduanya pada keadaan ini teranggap seperti satu shaf, dan satu shaf itu harus sejajar (sama).

✏ahmad sufyan

🇸🇦 أخبار مكة __✒
⭕ 16 shafar 1437 H

〰〰〰〰〰〰〰〰
‏📝 السنة في صلاة اﻹثنين جماعة ؟

▪قال العلاّمة ابن عثيمين :

- السنة أن يكون المأموم على يمين المصلي .
- وفي هذه الحال يكون وقوفهما متساويا .
- ولا يكون اﻹمام متقدما على المأموم .

لأنهما في هذه الحال يكونان صفا واحدا ، والصف الواحد يكون متساويا .

[لقاء الباب المفتوح ١٦]

————— ————— —————
((📕)) MAJMU'AH AL ISTIFADAH » http://walis-net.blogspot.com/p/depan.html || Channel telegram » https://telegram.me/alistifadah
((📌)) مجموعة الاستفادة

🔲🔲🔲((🔴))🔲🔲🔲

Ibroh lebih dipentingkan dari sekedar wawasan

☑️ IBROH LEBIH DIPENTINGKAN DARI SEKEDAR WAWASAN 💡
----------------
#abdulaziz_arrajihi
#tafsir_alkahfi
#ibroh_ayat
-----------------

Syaikh Abdul Aziz arRajihi hafidzohullah memberikan pengantar sebelum beliau menjelaskan ayat 22-26 dari surat alKahfi:

الأصل في القصص القرآني أن تؤخذ منه العبرة والفائدة، أما الخوص فيما لا فائدة فيه كعدد أصحاب الكهف وأسمائهم واسم كلبهم فليس هذا من العلم الضروري، ولا ينبغي الخوض فيه بلا علم.

"Asal dalam memahami berbagai kisah yang disebutkan dalam alQuran adalah MENJADIKANNYA SEBAGAI 💎PELAJARAN DAN FAIDAH.
Adapun memperdalam pembahasan dalam hal-hal yang tidak memberikan faidah padanya seperti pembahasan mengenai berapa jumlah pemuda ash-habulkahfi, siapa saja nama-nama mereka, apa nama anjing mereka*; yang seperti ini bukanlah termasuk ilmu yang mendesak maupun harus diketahui, dan tidaklah diperbolehkan terlalu mendetail padanya tanpa sandaran ilmu."

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Kita yang menukilkan perlu ingat; betapa jenis wawasan semacam inilah yang lebih dipentingkan para pegiat dakwah yang berafiliasi ke kelompok, ormas, atau tokoh tertentu (baca: hizbiyyun). Pembahasan yang mereka buru dan mendapat tempat di hati mereka adalah berkisaran tambahan wawasan yang seringkali tidak menyentuh konsekwensi amal (hati, lisan dan anggota badan).
Maka Ahlussunnah harus membedakan diri dari mereka karena takut karena Allah, dan jika ada wawasan yng diperoleh justru lebih menguatkan pelajaran yang bisa mereka petik untuk diamalkan.
اللم وفقنا لصالح الأخلاق و الأعمال ...

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
alih bahasa dan publikasi kembali
Abu Abdirrahman Sofian عفى الله عنه ولوالديه ولجميع المسلمين

📡 WA al I'tishom | Paiton | 29 Shofar 1437 H |

※※※※※※※※※※※※※※※※
🅾 MAJMU'AH AL ISTIFADAH 🅾
※※※※※※※※※※※※※※※※

Ⓜ مجموعة الاستفادة
🌍 http://bit.ly/tentangwalis
▶ Telegram http://bit.ly/alistifadah JOIN

🔗📌🔗📌🔗📌🔗📌🔗📌🔗📌🔗📌