Cari Blog Ini

Jumat, 02 September 2016

INILAH 3 SAHABAT YANG LARUT DIDALAM TUDUHAN ZINA KEDAPA UMMUL MU'MININ 'AISYAH

💦🔥INILAH 3 SAHABAT YANG LARUT DIDALAM TUDUHAN ZINA KEDAPA UMMUL MU'MININ 'AISYAH رضي الله عنها.

💧Hassan bin Tsabit
💧Misthoh bin Utsatsah
💧Hamnah bin Jahsyin (saudara Zainab bintu jahsyin, dan Zainab bintu Jahsyin istri Rasulullah ﷺ)

Maka Nabi ﷺ memerintahkan agar mereka bertiga dihukum had Qodzfi, masing²nya mendapatkan 80X cambukan.

📝 *FAEDAH*

✋🏾Adapun orang² munafik, maka Rasulullah ﷺ tidak menegakkan hukum had kepada mereka.
Dan ini ada perbedaan pendapat dikalangan Ulama' yaitu :

☝🏽🎓 Karena orang² munafik tidak terang²an menuduh. Hanyalah orang² munafik tersebut mengatakan :
_"Dikatakan fulan atau disebutkan allan atau kami mendengar seperti ini seperti itu atau semisalnya._

✌🏽🎓 Orang² munafik tidak pantas untuk disucikan karena hukum had bertujuan mensucikan orang yang sedang di hukum tersebut.
Oleh karenanya orang² munafik mereka ditempatkan di *kerak neraka paling bawah.*

🌐 Sumber :
📚 [ Makarimul Akhlaq ]

💺 Disampaikan oleh :
Ustadz Abu Syihab Amin حفظه الله تعالى.
Pada kajian rutin di
Ma'had Minhajussunnah Magelang

========================
📕🖊TURUT BERBAGI FAEDAH WFM🇮🇩

Read full article at http://walis-net.blogspot.com/2016/08/inilah-3-sahabat-yang-larut-didalam.html

Rabu, 31 Agustus 2016

KESALAHAN DALAM BERPAKAIAN

📢🌱⚠  NASEHAT BERHARGA UNTUK SALAFIYYIN ( transkrip audio 📔 )

BAB : KESALAHAN DALAM BERPAKAIAN

Oleh : al-ustadz Luqman bin muhammad ba'abduh hafizhahullah 🔈
Sumber: Tasjilat Ahlussunnah wal Jama'ah Indonesia 📚Bismillah,

🌷🌷🌷

Ikhwani fiiddin rohimani warohima kumulloh,

Begitu juga dalam kehidupan keseharian, afwan saja, penampilan kita sebagai ahlus sunnah berjenggot dan yang lainnya ini sudah asing kan dimasyarakat

Kita duduk dimasjid mulai pagi, diumumkan tadi berlanjut sampai kapan, besok subuh InsyaaAlloh, iya.., ini hal yang aneh di masyarakat kita

Semua pada sibuk cari dunia, berdagang, bertani, itu
Itu orang-orang di masjid terus, na’am, sudah aneh

Lah.., tolong.., hal yang sudah aneh ini jangan kita punya andil untuk memperaneh ditengah masyarakat, bisa dipahami ini

🔷🔷🔷

Mau pakai baju gamis, ya silahkan, naam, karena kita meyakini pakaian-pakaian yang seperti ini, adalah pakaian orang-orang sholihin, dari kalangan shohabat dan yang lainnya, na’am

La ‘basa.., silahkan.., tapi yang rapi..., ya yang rapi..., na’am

Afwan saja kalau ada yang tersinggung, mudah-mudahan tersinggung, tapi positif, na’am

Ada teman kita pakai celana, ya.., diatas mata kaki, bagus

Diatasnya sarung, diatasnya sarung, baju, baju pakistan yang bele’an sininya itu, na’am, tahu, ya.., na’am

Sudah.., kadang masih pakai jaket, sholat masuk masjid.., wuah...

Orang awam melihat, ini orang, betul saya pernah melihat orang awam menyaksikan teman kita yang sholat, dilihat gini, dilihat dari bawah ke...

Ya akhirnya ana nahan aja sudah diem, mau bilang apa sudah, ya...

❗❗❗

Mbok yang bener ta.., na’am

Orang saudinya sendiri nggak ada yang seperti itu, na’am, pakaiannya

Baju putih misalkan atau ... gamis ya..., bagus.., dalam pengertian rapi

Tidak seperti itu, tingkat bersusun, na’am.., ya.., yang rapi

Jadi orang itu melihat MasyaAlloh bagus, tertarik seorang itu dari cara berpakaian, na’am

Begitu juga, maaf saja, apa namanya kopiyah, ya, kalau bisa sih kopiyahnya

Kalau bisa nih, saran, rupanya nih mau banyak yang tersinggung ini, na’am

Yang warnanya itu putih, tidak berwarna warnilah, gitu lho

Ada doreng(loreng), ada ini, afwan.., na’am afwan baarokallohufiikum

Seperti ini….(kurang jelas).., bagus MasyaaAlloh, na’am.., putih bersih seperti antum, MasyaaAlloh, na’am ya

✖✖✖

Afwan saja ana mau terus terang aja, blak-blak-an saja ya, na’am, biar dipahami

Ada baju gamis yang lengannya itu segini ya, ini juga banyak yang tersinggung ini, na’am

Paham ya, yang segini ni ya, ahsan main tunjuk seperti ini, na’am, na’am ya…

Ma’af ma’af saja, itu kalau di arab sendiri, di negeri arob sendiri ini baju tidur

Dibuat didalam rumah, na’am, bukan untuk ke masjid atau yang semisalnya,

Nggak.., dibuat dirumah, santai dengan keluarga, minum kopi, itu mau tidur itu, kayak yang seperti itu, na’am, ya

Sekedar informasi, bagi yang kebetulan penjahit atau pedagang itu, tolonglah kalau mau jualan yang seperti ini seperti ini, putih, na’am, , yang semisalnya

👕👕👕

Warna juga terang jangan terlalu mencolok-colok, Ya Alloh.., macem-macem, na’am, ya.., yang sederhana

Kenapa, kadang-kadang didalam sunnahpun ada bimbingan ya, walaupun tidak sama persis, diqiyaskan tidak

Ketika Rasululloh diberi hadiah ya, kain, kemudian Rasululloh gunakan sebagai sujjadah, sholat
Selesai sholat, Rasululloh menyuruh istrinya untuk mengembalikan kain itu, kenapa

Kata Rasululloh, fainnaha qod alhajmi ansholati, kain yang lorek-lorek itu tadi membuat aku nggak konsen dalam sholatku, Subhanalloh

Na’am.., lha kalau kita kan macem-macem, na’am, warnanya macem, garis sana garis sini

Bunga ini bunga itu, na’am, sak macemnya sudah, na’am

Kadang-kadang afwan saja, kita sholat, ya.., fardhu

Allohu akbar, ya kadang-kadang ya namanya pandangan kan nglihat  didepan shof di depan, punggungnya atau apa, tertulis ac milan

❗❗❗

Ada tulisan macem-macem sudah, na’am, ya, baarokallohufiikum

Macem-macem tulisannya, akhirnya kita ini kacau pikiran ini, na’am

Coba yang seperti itu, ini mungkin terlalu intern memang untuk kita ya,

Mungkin awam nggak terlalu perhatian kalau awam

Lha wong kita pernah sholat didepan kita gambarnya ronaldo, didalam masjid

Ronaldo muslim atau mukmin, kafir, na’am

Masuk dalam masjid ronaldo, bayangkan, itu kalangan awam sudah, nemen sudah, na’am

Michael jackson sapa na’am masuk ke masjid

Dipakai oleh anak-anak muslimin, kasihan ini orang ini mau sholat

Saudara kita muslim, Allohu Akbar, dibelakangnya Michael Jackson, na’am

✔✔✔

Lha kita mungkin ya InsyaAlloh nggak ada yang seperti itu Alhamdulillah

Cumak hal-hal yang perlu dikurangi dikurangi dihilangkan, ya

Mau sholat, Allohu Akbar, tertulis gajah duduk dibawah

Mikirin gajah main bola saja belum selesai, na’am

Sak macemnya merek sarung, na’am

Lha hal-hal yang akan membuat orang itu lalai disholatnya coba dihilangkan, na’am

☀☀☀

Baarokallohufiikum, semaksimallah yang kita bisa ...., tanpa ghulluw, tanpa berlebihan, na’am

Usahakan, na’am. Ini masalah kita berpakaian, juga masalah afwan saja

Minyak wangi itu lho, kan memang dikalangan kita ini, ada suatu hal yang bagus sebenarnya, iya

Suka pada minyak wangi, begitu mau masuk masjid, ya

Itu kadang-kadang mengganggu pada sebagian orang awam, dimasjidnya orang awam khususnya

Ada orang-orang yang nggak tahan kena minyak wangi yang seperti itu

Begitu kita masuk di shof dia langsung..., betul

Yo mosok Ustadz sampai seperti itu, lebih dari itu

⁉⁉⁉

Sampek salah satu ustadz cerita kepada saya dikotanya

Ikhwan ditegur oleh ibuk-ibuk di masjid orang awam itu, ibuk-ibuk yang negur

He mas mas mas.., kalau pakai minyak wangi mbok yang betul,  jangan begitu, sak liter disokno kabeh

Betul ini, ikhwan kita ditegur ibuk-ibuk, lha bayangkan bapak-bapak yang di sebelah itu

Ibuk-ibuk kan nggak mungkin deket, cumak sliweran gitu aja, uuh MasyaaAlloh.., na’am

Ya yang sederhanalah, minyak wangi ada yang bau duren, ada yang bau manggis, ada...

Ada kan minyak wangi bau buah-buahan. Iya, ada, nggak tahu bau duren ada

🌵🌵🌵

Ya ikhwan, baarokallohufiikum, coba hal-hal yang seperti itu kita perhatikan baik-baik

Dikalangan awam, jangan semankin menambah asingnya sunnah ini semakin asing, sunnah, na’am

Tolong, baarokallohufiikum, na’am

Jadi, apa namanya, juga masalah, ndak apa-apa, ana blak-blak’an ini soalnya sekarang ini

Sudah waktunya blak-blak’an ini, imamah misalkan iya, imamah ini

Satu hal, rata-rata anak Indonesia atau kita itu, bukan rata-rata, tidak sedikit

Yang tidak tumbuh apa, jenggotnya iya,

Dia pakai baju bagus, bagus terus pakai imamahnya itu di apa, mau niru syaikh ini, ya.., mau niru.., syaikh

Iya, mau niru syaikh.., InsyaaAlloh, na’am

〽〽〽

Bagus, mau meniru sholihin itu bagus, na’am, terpuji

Cumak kadang-kadang kita harus mengetahui melihat kondisi,

Sampek pernah ditegur, ana ditegur waktu di yaman...( tidak jelas )

Temen-temen antum itu, cobalah kalau pakaian seperti itu bagi mereka

Mereka nggak tumbuh jenggot, itu maaf-maaf saja ya akhi, afwan, kayak perempuan

Begitu pula masalah rambut panjang itu, ya Rasululloh dulu pernah rambutnya sampai ke pundak, sampai ke daun telinganya

Ya.., pernah seperti itu Rasululloh, la ba’sa mau meniru Rasululloh

Barang siapa yang meniru beliau dalam rangka mencari ajr, dapat ajr, na’am

Cuma kadang-kadang harus mengetahui apa, kondisi, na’am

🔷🔷🔷

Hal ini juga penting, kemudian masalah imamah misalkan

Mengikatkan imamah, ya Alhamdulillah sebagian ikhwan kita bagus rapi

Cuman ana pernah menemui MasyaAlloh, imamah itu diikat

Bukannya imamah-imamah yang seperti ini, merah

Taplak meja, taplak meja hijau, dijadikan imamah

Terus diikat, ana bilang, hey kamu ini ngikat imamah atau kayak imamahnya joko tingkir kamu ini

Yang betul ya akhi, umar bin khottob tidak pernah pakai yang kayak gini, na’am

Betul.., diiket itu kayak, kayak afwan ini ya, supporter persebaya

Betul, diket begini, yang betul.., orang itu melihat, dilihat

❌❌❌

Ana itu pernah ditegur, sebagai Ustadznya mereka istilahnya

Gimana Ustadz, masak seperti itu, awam ini dia

Ya ana diem, ya InsyaaAlloh nanti kita nasehati, kita nasehati

Maka tolong yang seperti ini dijaga ya ikhwah, antum bisa memahami

Pakai imamah, bagus silahkan, pakai yang rapi, ya, na’am

Kalau yang memang ada lihyahya banyak, nggak papa pakai imamah

Ya.., seperti syaikh abdulloh bukhory, nggak papa...

Seperti syaikh robi’, ya.., nggak papa

Tapi yang sedikit, jangan dulu, ya diiket aja biar kelihatan kereng, gitu lho...

🌹🌹🌹

Ditulis ulang oleh Abu Zufar as Samaranji

➰➰➰➰➰➰

Donlot link Audio : https://app.box.com/s/24dfps0ufg7euwfhf1qdesvgpn9yw3j9

Sabtu, 27 Agustus 2016

KARAKTERISTIK DAN TANDA-TANDA DAKWAH SALAFIYYAH

===============
⭐🌕🌠 KARAKTERISTIK DAN TANDA-TANDA DAKWAH SALAFIYYAH
===============

✍🏼 Berkata Asy-Syaikh 'Abdullah Al-Bukhori hafizhahullah :

💡⚠ Diantara karakteristik dan tanda-tanda manhaj ini atau dakwah salafiyyah ini adalah :

1⃣ - Pertama : Perealisasian ibadah hanya untuk Allah 'Azza wa Jalla.

2⃣ - Kedua : Perealisasian ittiba' hanya kepada Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam.

3⃣ - Ketiga : Berpegang teguh dengan pemahaman salafush sholih didalam memahami dalil-dalil (Kitab dan Sunnah, pent.) serta tidak keluar dari pemahaman mereka.

4⃣ - Keempat : Berhati-hati dan memperingatkan (Ummat, pent.) dari bid'ah dan pelaku kebid'ahan.

5⃣ - Kelima : Bersikap pertengahan di antara sikap berlebih-lebihan dan bermudah-mudahan.

6⃣ - Keenam : Kokoh diatas al-Haq.

7⃣ - Ketujuh : Bersemangat untuk senantiasa bersatu.

8⃣ - Kedelapan : Meninggalkan perpecahan dan perselisishan.

9⃣ - Kesembilan : Bersemangat dalam mendapatkan ilmu yang bermanfaat, menyebarkannya di antara manusia dan menyeru mereka kepadanya, serta bersabar atas rintangan yang didapat di dalamnya.

🔟 - Kesepuluh : Beramal dengan ilmu.

📖 [Risalah, Apa itu As-Salafiyyah? (hal : 50-51)]

➖➖➖ 🇸🇦 ➖➖➖

✍ ﻗـﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴـﺦ ﻋﺒــﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﺨـــــﺎﺭﻱ ﺣﻔﻈـﻪ ﺍلله :

ﻣـﻦ ﻣﻌﺎﻟـﻢ ﻭﺳﻤـﺎﺕ ﻫـﺬﺍ ﺍﻟﻤﻨﻬـﺞ ﺃﻭ ﻫـﺬﻩ ﺍﻟﺪﻋـﻮﺓ ﺍﻟﺴﻠﻔﻴـﺔ :

1- ﺃﻭﻻً : ﺗﺤﻘﻴـﻖ ﺍﻟﻌﺒﻮﺩﻳـﺔ ﻟﻠﻪ ﺟل ﻭﻋـﻼ

2- ﺛﺎﻧﻴﺎً : ﺗﺤﻘﻴـﻖ ﺗﺠﺮﻳـﺪ ﺍﻹﺗﺒـﺎﻉ ﻟﺮﺳـﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﷺ

3- ﺛﺎﻟﺜﺎً : ﻟـﺰﻭﻡ ﻓﻬـﻢ ﺍﻟﺴﻠـﻒ ﺍﻟﺼﺎﻟـﺢ ﺭﺿـﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬـﻢ لﻷدلـة ﺍﻟﺸﺮﻋﻴـﺔ، ﻭﻋـﺪﻡ ﺍﻟﺨـﺮﻭﺝ ﻋـﻦ ﺫﻟـﻚ

4- ﺭﺍﺑﻌﺎً : ﺍﻟﺤـﺬﺭ ﻭﺍﻟﺘﺤﺬﻳـﺮ ﻣـﻦw ﺍﻟﺒﺪﻋــﺔ ﻭﺍﻟﻤﺒﺘﺪﻋــﺔ

5- ﺧﺎﻣﺴﺎ : ﺍﻟﻮﺳﻄﻴـﺔ ﺑﻴـﻦ ﺍﻟﻐﻠــﻮ ﻭﺍﻟﺠﻔــﺎﺀ

6- ﺳﺎﺩﺳﺎً : ﺍﻟﺜﺒـﺎﺕ ﻋﻠـﻰ ﺍﻟﺤـــﻖ

7- ﺳﺎﺑﻌﺎً : ﺍﻟﺤـﺮﺹ ﻋﻠـﻰ ﺍﻻﺟﺘﻤــﺎﻉ

8- ﺛﺎﻣﻨﺎً : ﻧﺒـﺬ ﺍﻟﻔﺮﻗــﺔ ﻭﺍﻻﺧﺘــﻼﻑ

9- ﺗﺎﺳﻌﺎً : ﺍﻟﺤـﺮﺹ ﻋﻠـﻰ ﺗﺤﺼﻴـﻞ ﺍﻟﻌﻠـﻢ ﺍﻟﻨﺎﻓـﻊ، ﻭﻧﺸـﺮﻩ ﺑﻴـﻦ ﺍﻟﻨـﺎﺱ ﻭﺩﻋﻮﺗﻬـﻢ ﺇﻟﻴـﻪ ﻣـﻊ ﺍﻟﺼﺒـﺮ ﻋﻠـﻰ ﺍﻷﺫﻯ ﻓﻴـﻪ

10- ﻋﺎﺷﺮﺍً : ﺍﻟﻌﻤـﻞ ﺑﺎﻟﻌﻠـﻢ
.
📖 [ ﺭﺳﺎﻟـﺔ ﻣـﺎ ﻫـﻲ ﺍﻟﺴﻠﻔﻴــــﺔ؟ (ﺻ ٥٠ - ٥١) ]

📜 Sumber artikel : WhatsApp Al Manshurah Singaraja
🔻🔻🔻🔻🔻🔻
🎯 Majmu'ah Ashhaabus Sunnah
🚀 ©hannel telegram : http://bit.ly/ashhabussunnah
➖➖➖➖➖➖

Minggu, 21 Agustus 2016

Ringkasan Sebab-Sebab Kenapa ‘Ali Hasan al-Halabi dijarh (dicerca dan dikritik)

Ringkasan Sebab-Sebab Kenapa ‘Ali Hasan al-Halabi dijarh (dicerca dan dikritik)

1. Al-Halabi memuji Risalah ‘Amman, sebuah risalah yang mengajak kepada persatuan agama dan persaudaraan lintas agama, serta kebebasan beragama dan persamaan agama. Juga pendekatan antar berbagai madzhab (aliran), kebebasan berpikir, serta penerapan demokrasi, diiringi dengan dukungan kepada siapapun yang menyeru kepada kesesatan dan kebinasaan ini.

2. al-Halabi menyifati Risalah ‘Amman sebagai yang terdepan dalam menjelaskan tentang Islam, padahal di dalam risalah tersebut terdapat kekufuran yang sangat nyata.

3. al-Halabi memuji orang-orang yang mendukung Risalah ‘Amman, baik orang-orang Rafidhah, Shufiyyah, Sekuler, dll yang jumlah mereka sangat banyak. Al-Halabi juga mempersaksikan dengan penuh kepalsuan dan kebohongan bahwa mereka (para pendukung tersebut) adalah para ‘ulama terpercaya dan para pimpinan yang amanah.

4. al-Halabi mencetak khutbahnya, yang di dalam khutbah tersebut dia memuji Risalah ‘Amman yang penuh kekufuran tersebut. Khutbah itu diterbitkan dua kali, dan dia berbangga dengan khutbah tersebut dan pujiannya terhadap Risalah ‘Amman

5. Membela mati-matian Risalah ‘Amman dalam sejumlah kitab dan kasetnya, dengan segala penyimpangan yang ada di dalamnya.

6. Ikut serta dalam sebuah muktamar nasional, yang menetapkan  dakwah kepada persatuan agama, dan dia turut menandatangani piagama tersebut.

7. al-Halabi memperbolehkan celaan terhadap shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menyifat mereka sebagai penakut/pengecut.  Wal’iyyadzu billah.

8. Dia menyifati sebagaian shahabat Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka berwatak pengecut  dan gagal.

9. al-Halabi menyanjung setinggi langit sebuah kitab yang mengajak pendekatan (penyatuan) berbagai kelompok yang ada dan berbagai kelompok sempalan.

10. Aqidah al-Halabi dalam masalah Iman adalah di atas pendapat kelompok Murji’ah yang bid’ah dan sesat. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh para ‘ulama yang duduk di Lajnah ad-Da’imah li al-Ifta’ terhadapnya.

11. al-Halabi mendukung kitab karya Murad Syukri yang berjudul “Ihkamu at-Taqrir fi Ahkami at-Takfir” , dan dia (al-Halabi) yang telah membacanya dan mencetaknya. Padahal dia berjalan di atas manhaj Murji’ah yang sesat, dan rujukannya seringkali adalah al-Ghazali dan tokoh-tokoh semisalnya. Para ‘ulama Lajnah ad-Da’imah li al-Ifta’ telah mentahdzirnya, karena dia tegak di atas madzhab murji’ah.

12. Meremehkan permasalahan-permasalahan aqidah yang besar, seperti caranya Ikhwanul Muslimin (IM).

13. Pembelaannya terhadap Abul Hasan al-Ma’ribi, ketika Abul Hasan menyifati shahabat dengan sifat Ghutsa’iyyah.

14. al-Halabi beranggapan bahwa menyifati shahabat dengan ghutsa’iyyah bukanlah sebagai celaan.

15. ‘Ali Hasan terpengaruh dengan Sayyid Quthb, ini dengan persaksian dia sendiri.

16. ‘Ali Hasan memuji, membela, dan memuliakan tokoh-tokoh yang menyelisih manhaj Salaf, seperti al-Huwaini, Muhammad Hassan, al-’Id Syarifi, al-Maghrawi, Abul Hasan al-Ma’ribi, dll.

17. ‘Ali Hasan memuji Jamaludin al-Afghani, Muhammad ‘Abduh, Hasan al-Banna, dan an-Nabhani.

18. ‘Ali Hasan menyatakan harus menerapkan prinsip Hamlu al-Mujmal ‘ala al-Mufashshal (membawa makna perkataan yang global kepada perkataan yang rinci) dalam menilai ucapan/perkataan manusia.

19. Pujiannya terhadap Abu Hasan an-Nadwi

20. Bermudah-mudahan mengambil ijazah, walaupun dari ahlul bid’ah.

21. Celaannya terhadap kitab Riyadhus Shalihin karya an-Nawawi.

22. Dia beranggapan bahwa pengujian itu boleh diterapkan terhadap tokoh-tokoh kebid’ahan. Adapun para pengikut dan pendukung bid’ah tidak boleh diuji.

23. Dia menyatakan bahwa perselisihan para ‘ulama rabbaniyyin dengan para neo-khawarij masa ini hanya perselisihan dalam permasalahan ijtihadiyah fiqhiyyah.

24. Pencurian ilmiah, seperti kitab “Kitab an-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar” karya Ibnu al-Atsir, dengan tahqiq Thahir az-Zawi dan DR. Mahmud ath-Thanahi. Sebelumnya kitab tersebut dalam 5 jilid besar. Namun al-Halabi menjadikannya 1 jilid besar saja, dengan tulisan kecil, kertas yang tipis, dan sampul yang tebal.

25. Dia (al-Halabi) berdusta atas nama para ‘ulama, yaitu ketika dia dan yang lainnya menulis sebuah kitab yang diberi judul “Mujmal masa’il al-Iman al-’Ilmiyyah fi Ushul al-’Aqidati as-Salafiyyah” , para penulisnya (termasuk di dalamnya Ali Hasan) menyebutkan dalam muqaddimah kitab bahwa para ‘ulama telah membacanya dan menyetujuinya. Kemudian mereka menyebutkan nama-nama para ‘ulama tersebut, di antaranya mereka menyebutkan nama asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi, asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali, dan lainnya. Maka para ‘ulama pun mendustakan para penulis tersebut.

26. Pernyataan al-Halabi bahwa asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dulu berfatwa membolehkan Pemilu adalah dalam rangka menempuh madharat yang lebih ringian dari dua madharat yang ada, atau dalam rangka menolak mafsadah yang lebih besar.

27. ‘Ali Hasan telah berdusta atas nama asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah. Yaitu ketika dia mencetak sebuah risalah dan memberikan ta’liq (komentar) terhadapnya, serta menisbahkan jawaban kepada beliau (asy-Syaikh Shalih al-Fauzan), dengan judul: al-As’ilah al-’Iraqiyyah fi Masa’il al-Iman wa at-Takfir al-Manhajiyyah wa Ajwibatu Fadhilati asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan” (artinya= Pertanyaan-Pertanyaan dari Iraq tentang permasalahan-permasalahan manhajiyyah iman dan takfir, beserta Jawaban-Jawaban Fadhilatu asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan); dengan edit dan ta’liq oleh ‘Ali Hasan al-Halabi, terbitan Dar al-Minhaj, Kairo, tahun 1426 H.

Dalam kitab tersebut terdapat beberapa permasalahan yang menyelisihi aqidah Ahlus Sunnah. Maka asy-Syaikh al-Fauzan mendustakan penisbahan jawaban-jawaban tersebut kepada beliau dan menafikannya baik secara global maupun rinci.

Maka semestinya ‘Ali Hasan wajib bertaubat. Namun sayang, dia tidak mau kecuali menolak dan menyombongkan diri. Maka dia pun balik menulis sebuah risalah berjudul, “Tadzkir asy-Syaikh al-Fauzan bima Akhadzahu an-Nisyan, Kalimah ‘Ilmiyyah haula al-As’ilah al-’Iraqiyyah” (artinya = Mengingatkan asy-Syaikh al-Fauzan dari kelupaan (!!!) Penjelasan Ilmiah seputar Pertanyaan-Pertanyaan dari ‘Iraq).

28. ‘Ali Hasan dikenal dengan kedustaan dalam banyak kejadian.

29. Ketika menukil dari ‘ulama, ‘Ali Hasan menyelewengkan maknanya. Ini sebagaimana dikatakan oleh para ‘ulama anggota al-Lajnah ad-Da`imah li al-Ifta ketika memberikan penilaian terhadapnya.

30. ‘Ali Hasan memotong  ucapan ‘ulama (yakni ketika menukil dari para ‘ulama tersebut, pen). Ini juga sebagaimana dikatakan oleh para ‘ulama anggota al-Lajnah ad-Da`imah li al-Ifta ketika memberikan penilaian terhadapnya, juga oleh para ‘ulama lainnya. Dan ini sangat terkenal darinya.

31. Mengomentari ucapan para ‘ulama dengan membawanya kepada suatu maksud yang tidak dikandung oleh ucapan tersebut. Ini pun masih sebagaimana dikatakan oleh para ‘ulama anggota al-Lajnah ad-Da`imah li al-Ifta ketika memberikan penilaian terhadapnya, juga oleh para ‘ulama lainnya.

32. Meremehkan permasalahan berhukum tidak dengan apa yang Allah turunkan. ‘Ali Hasan mengatakan bahwa perhatian terhadap pereleasisaian tauhid dalam masalah ini terdapat keserupaan terhadap Syi’ah Rafidhah. Ini merupakan kesalahan yang sangat jelek. Ini sebagaimana dikatakan oleh para ‘ulama anggota al-Lajnah ad-Da`imah li al-Ifta ketika memberikan penilaian terhadapnya.

33. ‘Ali Hasan telah meletakkan dasar-dasar kaidah-kaidah rusak dan tidak laku, sejak 30 tahun lalu, untuk menentang manhaj salafi dalam bidang al-Jarh wa at-Ta’dil.

34. ‘Ali Hasan mengatakan bahwa ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil tidak ada dalilnya dalam Kitabullah, tidak pula dalam sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ilmu tersebut ada karena demi kemashlahatan.

35. Ajakannya untuk mencairkan berbagai perselisihan pemikiran dan fiqhiyyah yang ada, demi kemashlahatan sebuah negeri secara global.

36. ‘Ali Hasan mengatakan bahwa demokrasi merupakan istilah masa ini. Kita tidak membantahnya dari sisi kenyataan secara mutlak! Dan tidak pula menerimanya secara mutlak!

37. Dia menghapus manhaj pengujian terhadap manusia dengan tokoh-tokoh tertentu.

38. ‘Ali Hasan membela Jum’iyyah Ihyaut Turats penganut paham Quthbiyyah.

39. Pembelaannya terhadap Jum’iyyah al-Birr.

40. Pembelaan ‘Ali Hasan terhadap Abul Hasan al-Ma’ribi.

41. Ucapan ‘Ali Hasan terhadap tokoh khawarij Usamah bin Laden, bahwa dia seorang yang ikhlash, dan memiliki ghirah keagamaan.

42. Pembelaannya terhadap kitab as-Siraj al-Wahhaj yang ditulis oleh Abul Hasan al-Ma’ribi, dalam kitab tersebut menyerang manhaj salafi.

43. ‘Ali Hasan membela al-Mighrawi at-Takfiri (yang berpaham takfir).

44. ‘Ali Hasan membela Muhammad Hassan al-Quthbi (pengikut paham Sayyid Quthb).

45. ‘Ali Hasan membela al-Huwani yang berpaham takfir

46. ‘Ali Hasan membela al-’Id Syarifi yang mencela para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

47. ‘Ali Hasan membedakan antara ‘aqidah dan manhaj dari sisi terjadinya dan kenyataannya.

48. ‘Ali Hasan membedakan antara ‘aqidah dan manhaj, yaitu perbedaan manhaj tidak berpengaruh (pada seseorang) apabila aqidahnya shahih dan kuat, serta tidak mengeluarkan orang tersebut dari Salafiyyah.

49. ‘Ali Hasan meletakkan sebuah kaidah jahat, yaitu bahwa kata ghutsa’iyyah apabila diucapkan oleh seorang sunni maka itu tidak dianggap sebagai celaan (terhadap shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam), namun apabila diucapkan oleh seorang yang menyimpang maka itu teranggap sebagai celaan.

50. ‘Ali Hasan menyetujui kaidah Nushahhih wala Nujarrih (kami memperbaiki, bukan mencela).

51. ‘Ali Hasan menyetujui kaidah Muwazanah, yaitu dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan orang-orang yang menyimpang.

52. ‘Ali Hasan mengacaukan kaidah al-Jarh al-Mufassar muqaddam ‘ala at-Ta’dil (cercaan secara rinci lebih didahulukan daripada pujian).

53. Dia meletakkan kaidah, dipersyaratkan adanya ijma’ ketika mentabdi’ (memvonis bid’ah).

54. Dia meletakkan kaidah, ” لاَ نَجْعَل خِلاَفَنَا فِي غَيْرِنَا سَبَبًا لِلْخِلَافِ بَيْنَنَا Kita tidak menjadikan perbedaan kita dalam menilai orang lain sebagai sebab perselisihan antara kita.“ Kaidah ini mirip dengan kaidahnya IM, “Kita saling bekerja sama dalam hal yang kita bersepakat padanya, dan kita saling memberikan udzur satu sama lain dalam hal yang kita berselisih padanya.”

55. ‘Ali Hasan menganggap bahwa penilaian-penilaian para imam dalam al-Jarh wa at-Ta’dil termasuk dalam permasalahan-permasalahan ijtihadiyah, yang boleh terjadi padanya perbedaan, sehingga tidak boleh ada pengingkaran dan ilzam padanya.

56. Dia meletakkan kaidah bahwa tidak ada ilzam pada al-jarh (cercaan) al-Mufassar (rinci) yang dijelaskan dan didukung oleh bukti-bukti terhadap ahlul bid’ah, kecuali dengan syarat (celaan tersebut) telah mencapai al-Iqtina’ (memuaskan).

57. ‘Ali Hasan meragukan kaidah: ‘diterimanya berita dari seorang yang tsiqah dalam menghukumi orang-orang tertentu’, dan dia menyatakan harus ada tabayyun.

58. ‘Ali Hasan menyatakan bahwa hajr tidak ada mashlahahnya pada zaman ini.

59. ‘Ali Hasan menuduh al-Imam Ahmad duduk bersama rafidhah.

60. ‘Ali Hasan bergaul dengan Ahlul Bid’ah, memuji-mujinya, dan membelanya.

61. ‘Ali Hasan tidak mau menerima nasehat-nasehat ‘ulama

62. ‘Ali Hasan muncul di stasiun TV ‘al-Manar’ milik rafidhah, yang mencela para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ummahatul mukminin

63. ‘Ali Hasan memuji mandub (direktur) stasiun TV rafidhah yang kufur dan zindiq, yaitu TV al-Manar, bahwa dia adalah seorang sunni yang mulia.

64. ‘Ali Hasan duduk bersama perempuan yang berhias, dalam sebuah acara televisi di salah satu stasiun.

65. ‘Ali Hasan tidak mau mengikuti nasehat para ‘ulama anggota Lajnah ad-Daimah li al-Ifta’, agar dia (‘Ali Hasan) hendaknya belajar lagi kepada para ‘ulama yang terpercaya dan amanah, dan meninggalkan ikut-ikutan membahas permasalahan iman.

66. Dia memuji ahlul bid’ah, membela mereka, bekerja sama dengan mereka, duduk bersama mereka, serta mengajak untuk mengambil ilmu dari mereka dan tidak memutuskan hubungan dengan mereka pada zaman ini.

67. Dia berupaya memasukkan sebagian kelompok sesat dan organisasi-organisasi menyimpang ke dalam bingkai ahlus sunnah wal jama’ah, yaitu dengan slogan yang ia namakan sebagai manhaj yang luas dan longgar! Dan dia menganggap bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan nama untuk kelompok-kelompok yang banyak.

68. Dia mengatakan ar-Rabi’ as-Salafy (musim semi salafy) untuk menyamakan (salafiyin) dengan orang-orang kafir yang mendukung demonstrasi-demonstrasi dan gerakan-gerakan revolusi yang mereka beri nama dengan ar-Rabi’ al-’Arabi (musim semi arab).

69. Memanglingkan pandangan para pemuda kepada dirinya, dengan mengatakan hendaknya kalian merujuk kepada kami, bukan kepada para ‘ulama hijaz.

70. ‘Ali Hasan memalingkan para pemuda dari para ‘ulama yang kokoh keilmuannya – yang dikenal dengan aqidah yang benar dan manhaj yang lurus – dan membuat para pemuda tidak butuh terhadap para ‘ulama tersebut, serta mencela mereka (para ‘ulama tersebut) dengan celaan-celaan yang keji dan cara-cara yang penuh makar.

71. Dia melecehkan para ‘ulama sunnah, dengan mengatakan bahwa tidak ada seorang makhluk pun pada hari ini yang berhak memerintah – siapapun dia, bagaimana pun dia, dan di manapun dia – terhadap dakwah salafiyyah dan terhadap salafiyyin.

72. Kejahatannya terhadap al-Imam al-Bukhari rahimahullah dan yang lainnya.

73. Melecehkan al-’Allamah Bin Baz rahimahullah.

74. dia berdusta atas nama asy-Syaikh ‘Abdu ‘Aziz bin Baz rahimahullah bahwa beliau pernah berkata bahwa Safar al-Hawali adalah Ibnu Taimiyyah zaman ini.

75. dia mengatakan bahwa orang-orang dekat asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah memberikan pengaruh terhadap beliau dalam maksud-maksud fatwanya.

76. Dia mencela asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali.

77. Dia mencela asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri.

78. Dia mencela asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali.

79. Dia mencela asy-Syaikh Shalih as-Suhaimi, karena beliau tidak melihat disebabkan musibah yang Allah timpakan padanya berupa hilangnya kedua matanya. Dan beliau berbicara dengan kebatilan disebabkan tidak mampu meneliti kondisi seseorang.

80. dia mencela para penuntut ilmu salafiyyin, dan menyifati mereka dengan sifat-sifat yang sangat jelek.

81. Terakhir – namun ini bukan yang paling akhir – ‘Ali Hasan al-Halabi mempersaksikan bahwa dirinya telah berubah.

___________________________________

Sumber : Kitab Tahdzir as-Salafy min Manhaj at-Tamayyu’ al-Khalafy dikumpulkan oleh: ‘Abdul Hamid ‘Ali Yahya Najjar al-Hadhabi. Muqaddimah asy-Syaikh DR. Ahmad ‘Umar Bazmul. Hal. 149-185.

http://dammajhabibah.net/2013/11/10/ringkasan-sebab-sebab-kenapa-ali-hasan-al-halabi-dijarh-dicerca-dan-dikritik/

http://salafy.or.id/blog/2013/11/11/ringkasan-sebab-sebab-kenapa-ali-hasan-al-halabi-dijarh-dicerca-dan-dikritik/

Nasehat ustadz Abdurrahman Lombok hafizhahullah tentang Dakwah Salafiyah

📜📝 EDISI NASEHAT INDAH
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

📜 KUMPULAN NASEHAT INDAH AL USTADZ ABDURRAHMAN LOMBOK HAFIZHAHULLOH
~~~~~~~~~~~~~~

📋 Dakwah Salafiyah butuh kepada seorang yang berjiwa ikhlas, tangguh, kuat, akhlaq mulia..

⭐ Al Ustadz Abdurrahman Lombok Hafizhahullohu.

~~~~~~~~~~~~~~~

📝 Isi Nasehat.:

●1. Dakwah ini (dakwah salafiyah) butuh kepada seseorang yang kuat, butuh kepada seorang yang berjiwa penuh dengan ketulusan dan keikhlasan, dan dakwah ini membutuhkan orang-orang yang bersabar, dan juga dakwah ini sangat butuh kepada seorang yang memiliki jiwa yang bertaqwa dan dakwah butuh seorang yang dihiasi dengan kasih sayang kepada kaum muslimin secara umum dan ahlu sunnah khususnya..

*****
●2. Dakwah salafiyah harus bersih dari orang yang memiliki kebatilan dan dakwah ini kita lakukan pembersihan dari barisan ahlu ahwa' dan hizbi yang berjuang padanya. Karena pada diri ahlu haq ini jika ada seorang hizbi masuk, akan jadi bumerang dalam perjuangan ahlu sunnah wal Jamaah.

*****
●3. Ahlu sunnah jangan berbangga dan bergembira karena melihat ada ahlul ahwa' ikut berjuang dibarisan mereka, dan jangan bergembira jika mereka mendapatkan dana materi dari sisi dunia datang dari seorang hizbiyah (seperti jumiyah ihya at turots), karena akibatnya akan terjadi kerugian kerusakan dan perpecahan,.

*****
●4. Maka cukuplah kita menemukan kerusakan yang amat besar terhadap diamnya mereka terhadap ahlul ahwa' wa bidah, karena mereka (ahlul ahwa dan ahlul bidah) banyak membantu dan memberi bantuan kepada mereka...

*****
●5. Disa'at ahlu sunnah wal jama'ah tampil untuk menasehatinya maka disebut oleh mereka dengan sebutan jelek, seperti keras, kaku, kasar, dan suka mentahdzir, dan lain-lain.

*****
●6. Dan inilah merupakan  malapetaka buat mereka, Karena sejarah telah memberitahukan, tidaklah ahlul ahwa dan bid'ah membantu dengam cuma-cuma dengan tanpa ada konsekwensi dibelakang,..

*****
●7. Termasuk sikap yang mulia dan agung disaat ahlu sunnah melakukan pembersiham dari langkah-langkah mereka ahlul batil dan melakukan tarbiyah kepada generasi penerus.

*****
●8. Oleh karena itu kita mempersiapkan generasi ahlus sunnah yang tahan banting, yaitu orang yang benar-benar memiliki kesabaran disaat diuji dengan berbagai kekurangan finansial/dunia dan ahlu sunnah wal jamaah dididik ketika memiliki kelapangan hidup agar jangan keluar dari ahlu sunnah wal jama'ah karena kekurangan atau ujian yang diturunkan...

~~~~~~~~~~~~~~

📋✏ Majmu'ah Salafy Lombok
------------------------------
📡🌠Majmu'ah Ittiba'us Salaf

🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

Kamis, 18 Agustus 2016

PUJIAN DAN TAZKIYAH USTADZ DZULQORNAIN AL MAKASSARY TERHADAP PROF DR SYAIKH ROBI BIN HADI AL-MADKHALI HAFIZHAHULLAH

PUJIAN DAN TAZKIYAH USTADZ DZULQORNAIN AL MAKASSARY TERHADAP PROF.DOKTOR SYAIKH ROBI BIN HADI AL-MADKHALI HAFIZHAHULLAH

Ustadz Dzulqarnain (sebelum di tahdzir)  berkata :

" Syaikh Robi ini perlu diketahui beliau adalah ulama besar.  yg telah diberikan rekomendasi oleh 4 Imam Ahlissunnah di zaman ini yakni :

Syaikh bin Baz,

Syaikh Albani,

Syaikh Utsaimin,

Syaikh Muqbil,

 semuanya memberikan pujian kepada Syaikh Robi. ...

dan Syaikh memberi ceramah dihadapan Syaikh bin Baz, ini menunjukkan Syaikh Robi BUKAN ORANG SEMBARANG.

 dan Syaikh Robi di MEKKAH MENGAJAR DI MASJID SYAIKH BIN BAZ & DIBERI REKOMENDASI OLEH SYAIKH BIN BAZ,...

ini menunjukkan Asy-Syaikh Robi adalah ULAMA BESAR, yg mengatakan Syaikh Robi itu ulama biasa² saja maka itu adalah orang² yg DIJELASKAN KESESATANNYA OLEH SYAIKH ROBI Hafizhahullah

Dan PENGAKUAN SYAIKH ALBANI bahwa Syaikh Robi adalah IMAM JARH WAT TA'DIL DI ZAMAN INI

Dan yang mengkritik Syaikh Robi adalah orang² yang dia salah satu dari 2 orang ;

 Mungkin dia orang yang JAHIL MAKA DIAJARI

 Dia orang yang mu'aniq

KERAS KEPALA, kalo dia MU'ANIQ maka kita MEMOHON KEPADA ALLAH MUDAH² DIA DIBERIKAN PETUNJUK ATAU KALAU TIDAK DIA DIPATAHKAN PUNGGUNGNYA

dan ORANG YANG PALING TAHU TENTANG KESESATAN JAMA'AH² DI ZAMAN INI adalah SYAIKH ROBI dan TERBUKTI BETUL !!!,...

maka FIRASAT BELIAU TEPAT, karena itulah AHLI ILMU PARA ULAMA adalah orang² yang HARUS KITA HORMATI...

ALLAH BERFIRMAN : " DAN SESUNGGUHNYA PADA HAL TERSEBUT ADA TANDA-TANDA BAGI ORANG YANG MEMPUNYAI FIRASAT"..

dan para Ulama itu seperti yg dikatakan oleh Imam Hasan Al Bashri bahwa kalo FITNAH MAU DATANG MEREKA TAU KALO INI FITNAH SEDANG DATANG, para Ulama sudah Tau....

nanti ketika FITNAH SUDAH TERJADI SUDAH PERGI BARULAH ORANG² JAHIL ITU TAU. ..OOOH ini FITNAH RUPANYA. ..

Syaikh Rabi' Adalah Rujukan

http://bit.ly/Zht224

Dzulqornain berkata (Tafaddol unduh kedua link ini untuk dengar suara syaikh dzulqornain al makassary)

Kalo sudah ada fatwa ulama...maka terima lah..hormati ulama kibar

http://bit.ly/WXeZx2

Bukti ucapan dzulqarnain.

(Edisi Senjata Makan Tuan)

http://yukngajisemarang.blogspot.co.id/2014/12/pujian-dan-tazkiyah-ustadz-dzulqornain.html?m=1

Hukum menyanyikan lagu kebangsaan dan Hukum hormat bendera

```🚇HUKUM MENYANYIKAN LAGU KEBANGSAAN DAN HORMAT BENDERA```

_Al Lajnah Ad Daimah lil Ifta_

*Pertanyaan:*

Apakah boleh berdiri untuk lagu kebangsaan dan hormat kepada bendera ?

*Jawab:*

Tidak boleh bagi seorang muslim berdiri untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan. Ini termasuk perbuatan bid’ah yang harus diingkari dan tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam ataupun pada masa al-Khulafa’ ar-Rasyidun Radiyallahu ‘anhum.

Sikap ini juga bertentangan dengan tauhid yang wajib sempurna dan keikhlasan didalam mengagungkan hanya kepada Allah semata serta merupakan sarana menuju kesyirikan.

Di samping itu, ia juga merupakan bentuk penyerupaan terhadap orang-orang kafir, mentaklid (mengikuti) tradisi mereka yang jelek serta menyamai mereka dalam sikap berlebihan terhadap para pemimpin dan protokoler-protokoler resmi.

Padahal, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita berlaku sama seperti mereka atau menyerupai mereka.

_Wa billahi at-Taufiq, wa shallaallhu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘alihi wa shahbihi wa sallam._

[Dinukil dari Kumpulan fatwa al Lajnah ad Daimah li al Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al Ifta, Lembaga tetap pengkajian ilmiah dan riset fatwa Saudi Arabia, halaman 149. Dikumpulkan dalam Al Fatawa Asy Syari’iyyah fi Al Masa’il Al ‘Ashriyyah min Fatawa Ulama’ Al Balad Al Haram oleh Khalid Al Juraisiy]


🗺 Sumber: http://salafy.or.id/blog/2003/12/26/hukum-menyanyikan-lagu-kebangsaan-dan-hormat-bendera/