Cari Blog Ini

Senin, 18 Mei 2015

Tentang PENGAJIAN IBU-IBU

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله

Pertanyaan:
وهل من الأفضل أن يجتمعن في بيوت بعضهن أوفى المسجد؟
Manakah yang afdhal bagi para wanita (di dalam belajar), apakah berkumpul di rumah sebagian mereka ataukah di masjid?

Jawaban:
الذي أرى أن النساء يمكنهن الدعوة إلى الله كالرجال
Yang aku pandang bahwasanya wanita juga bisa berdakwah ke jalan Allah sebagaimana laki-laki.
ولكن نظرًا لكون المرأة لايتيسر لها الخروج كما يتيسر للرجل فإنها لاتساويه من كل وجه
Akan tetapi, dari satu sisi mereka tidak bisa menyamai kaum pria pada semua aspek dakwah ini karena intensitas keluar mereka yang terbatas tidak sebagaimana laki-laki.
ولكن هذه الكليات التي تضم عددا كبيرا من النساء يمكن أن تكون مجالا ًللدعوة إلى الله فيما بين النساء
Akan tetapi, fakultas-fakultas (syariah) yang ada ini dan bisa menampung banyak dari wanita adalah merupakan salah satu media bagi mereka para wanita di dalam berdakwah satu sama lain.
وأما الاجتماع في بيت من البيوت للعلم بالنسبة للنساء، فهذا محل توقف عندي لأنني إذا قارنت بين مزاياه النافعة، وما يخشى فيه من الضرر فإنى أقول: الأولى أن تبقى المرأة في بيتها,وان تدرس من العلم وتقرأ من الكتب ماتيسر
Adapun berkumpul pada salah satu rumah mereka dalam rangka belajar ilmu, maka saya tawaqquf (tidak bisa memutuskan) padanya. Dikarenakan kalau saya membandingkan antara kemanfaatan dan bahaya yang ditimbulkan padanya, maka saya katakan: yang lebih utama baginya tetap tinggal di rumahnya walaupun dia hanya bisa mempelajari sedikit dari ilmu dan membaca beberapa kitab yang mudah baginya.
اللهم إلا إذا كان هؤلاء النسوة في بيوت متقاربة كالجيران المتلاصقين مثلا فهذا أمره سهل
Kecuali jika rumah-rumah mereka berdekatan seperti halnya tetangga yang rumahnya berdekatan, maka ini perkaranya lebih mudah.
أما أن تركب السيارة أو تذهب إلى مكان بعيد للاجتماع في بيت امرأة فهذا أتوقف فيه
Adapun kalau dia harus mengendarai mobil atau pergi ke tempat yang agak jauh untuk berkumpul di salah satu rumah wanita, maka aku tawaqquf pada perkara ini.
وأستخير الله سبحانه وتعالى في القول به
Dan saya akan beristikharah kepada Allah untuk berfatwa pada masalah ini.
[Risalah berjudul Peran Wanita di dalam Perbaikan Masyarakat]

Sumber:
www .sahab .net/forums/index .php?showtopic=150330#entry707297

Alih bahasa: Syabab Forum Salafy

Forum Salafy Indonesia

Tentang SALAT BERJAMAAH DI MASJID SEBELUM MASUK WAKTU SALAT

Asy Syaikh Ubaid bin Abdillah al Jabiry حفظه الله

Pertanyaan:
هذه أسئله وردت عبر موقع ميراث الأنبياء: سائل من ليبيا يقول: يؤذن عندنا للصلوات قبل دخول وقتها، فهل نصلي مع الجماعه في المسجد ولو أقيمت الصلاه قبل دخول الوقت؟ أم الأفضل أن نصلي بالبيت في هذه الحال؟
Pertanyaan dari situs Mirotsul Anbiya. Penanya dari Maroko:
Di tempatku muadzinnya adzan sebelum masuknya waktu shalat. Apakah saya harus tetap shalat jamaah di masjid walaupun iqomatnya sebelum masuk waktu, ataukah saya shalat di rumah pada keadaan seperti ini?

Jawaban:
أقول أولاً أنت ياهذا السائل بارك الله فيك، ومن ماثلك في الحال، لكم حالتان: إحداهما: أن تكونوا موجودين خارج قريتكم في البريه، فأنتم لكم رؤيتكم، ونظرتكم، تصلون إذا تيقنتم دخول الوقت، سواء المغرب أو الفجر أو غيرهما. الحال الثانيه: أن تكونوا في قريتكم فأرى أن لاتشذوا عن جماعتكم، ومن استيقن يقيناً لاشك فيه صلى مع جماعته فتكون له نافله، ويصلي في بيته إذا دخل الوقت الذي كان لاشك عنده فيه، مستيقن، لأني بإستقرأ مايرد إليّ من أسئله وما أقل علمي ولستُ بالعالم الذي يصدر عن رأيه لكن ولله الحمد عندي أهليه أميز بها، الصحيح من السقيم استبان لي أن هذا مبني علي غالب الظن، فحينما أحقق مع السائلين يقول كنا في البريه فرأينا أن الوقت لم يدخل، وقد بينتُ التفصيل في هذه المسأله في أول جوابي علي هذا السؤال، نعم
Jawaban untuk Anda, wahai penanya, semoga Allah memberkahi Anda. Dan yang semisal dengan Anda, ada dua keadaan:
1. Kalian berada di luar daerah kalian di sebuah padang atau tempat yang luas, maka kalian bisa melihat waktu masuknya shalat, dan shalatlah ketika kalian telah yakin akan masuknya waktu baik shalat Magrib, Subuh atau selainnya.
2. Kalian berada di desa kalian, maka shalatlah bersama jamaah, jangan kalian menyendiri. Kalau dia yakin belum masuknya waktu, maka dia tetap shalat jamaah di masjid dengan niat shalat Sunnah kemudian dia shalat di rumah ketika waktu telah masuk.
Akan tetapi, sesuai pengalaman yang aku temukan dari beberapa pertanyaan semisal yang sampai kepadaku dan dari sedikit ilmu yang saya miliki dikarenakan saya bukan alim yang layak dimintai pendapatnya, akan tetapi, alhamdulillah, saya memiliki kemampuan untuk membedakan sesuatu yang valid dan tidak, dan perkara ini (keraguan masuknya waktu) dibangun di atas praduga yang kuat ketika aku menganalisis dari sebagian penanya mereka berkata: ketika kami berada di tanah lapang, kami melihat waktu memang belum masuk, dan perkara ini sudah aku jelaskan pada jawabanku yang pertama terkait permasalahan ini.
Naam.

Sumber:
ar .miraath .net/fatwah/2415

Alih bahasa: Syabab Forum Salafy

Forum Salafy Indonesia

Tentang MENAKUT-NAKUTI SAUDARANYA SESAMA MUSLIM DALAM RANGKA BERCANDA ATAU HAL LAINNYA

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, lihat Shahihul Jami’no. 7659)

Minggu, 17 Mei 2015

Tentang NABI PALSU

Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Allah berfirman:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 40)
Asy-Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani berkata: “Aqidah ini (yakni Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah nabi terakhir) telah ditetapkan dalam hadits yang masyhur diterima oleh umat.” (Ta’liq Ath-Thahawiyyah)
Di antara hadits yang beliau isyaratkan adalah:
1. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
فُضِّلْتُ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ: أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُورًا وَمَسْجِدًا، وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً، وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ
“Aku diberi keutamaan atas nabi selainku dengan enam hal: aku diberi jawami’ul kalim, ditolong dengan rasa takut, dihalalkan bagiku ghanimah, dijadikan bagiku bumi sebagai masjid dan alat bersuci, aku diutus kepada semua makhluk, dan kenabian ditutup olehku.” (HR. Muslim no. 523)
2. Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata:
إِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
“Akan ada setelahku 30 orang pendusta, semuanya mengaku sebagai nabi. Padahal aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelahku.” (HR. Abu Dawud no. 4252, dan Ahmad dengan sanad yang shahih)
Asy-Syaikh Al-Albani berkata: “Di antara para dajjal tersebut adalah Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani, yang mengaku sebagai nabi.” (lihat Ta’liqat Ath-Thahawiyyah)
Al-Imam Ath-Thahawi berkata: “Semua pengakuan kenabian setelah Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah kesesatan dan hawa nafsu semata.”

Sumber: Asy Syariah Edisi 041

Jumat, 15 Mei 2015

Tentang ISTRI MEMBOIKOT SUAMINYA

Asy Syaikh Ubaid bin Abdillah al Jabiry رحمه الله

Pertanyaan:
تقول السائلة من المغرب :هل يجوز أن أهجر زوجي عندما يحدث بيننا سوء تفاهم؟ ومقصودي من الهجر عدم الكلام معه، وأمنعه من لمسي
Seorang wanita dari Maroko bertanya: Bolehkah saya memboikot suami saya ketika terjadi sebuah kesalah pahaman antara kami berdua, dalam artian saya tidak mengajaknya bicara dan melarang dia menyentuh saya?

Jawaban:
مسكينة، لماذا يا بنتي؟
Wanita seperti ini miskin.
Kenapa wahai Anakku?
ما عَلِمْنَا أن امرأةً فعلت من نساء الصحابة ولا من بعدهم أنها صنعت مثل هذا الصنيع، وخيرُ ما أوصيكِ به أنتِ وزوجكِ والله من وراء القصد- يجب على كُلِّ واحدٍ منكما الاعتقاد الجازم بأنَّ صاحبه أمانةٌ في عنقه، يجب عليه أن يؤدِّي حقوقهُ تامَّة، ولا يعتدي عليه بِبَخْسِ حَقِّه؛ هذا أولًا
Kami tidak mengetahui ada satu orang pun wanita dari kalangan sahabat dan yang setelahnya melakukan seperti ini.
Dan yang terbaik yang bisa aku nasihatkan kepada anda dan suami anda adalah:
Wajib atas kalian berdua untuk meyakini bahwasanya masing-masing kalian adalah amanah antara satu sama lain yang wajib atas masing-masing menunaikan kewajibannya dan jangan ada yang melalaikan kewajibannya.
Ini yang pertama.
وثانيًا: أوصيكما بالتسامح والعفو عمَّا يبدر من أحدكما من تقصير، فإذا قَصَّرت المرأة فيُنصح زوجها بالعفو؛ ما قَدِر على ذلك، وإذا قَصَّر الرجل تُنصح المرأة بأنها تعفو، فالكمالُ لله، فإيَّاكما إيَّاكما أنتِ وزجك من نزغات الشيطان، وأُذَكِّركما بهذه الآية: ﴿وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا﴾؛ فاحذري أنتِ وزوجكِ نزغات الشيطان. نعم
Yang kedua, aku wasiatkan agar kalian saling pengertian dan saling memaafkan jika ada kekurangan pada pasangannya.
Jika wanita yang memiliki kekurangan, maka suaminya menasihati sesuai kemampuannya dan memaafkannya.
Dan jika suami memiliki kekurangan, maka istri juga memaafkan dan menasihati. Kesempurnaan hanya milik Allah.
Hati-hati kalian dari tipu daya syaithon. Dan aku ingatkan dengan ayat:
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا
(Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu agar mereka mengucapkan ucapan yang paling baik dikarenakan syaithon mencari kesempatan untuk menghasut antara mereka. Dan sesungguhnya syaithon musuh yang nyata bagi manusia.)
Maka berhati-hatilah anda dan suami anda dari hasutan syaithon. Naam.

Alih bahasa: Syabab Forum Salafy

Sumber:
www .sahab .net/forums/index .php?showtopic=143308#entry687313

Forum Salafy Indonesia

Kamis, 14 Mei 2015

Tentang ZAKAT PROFESI DAN ZAKAT PERDAGANGAN

Soal:
Seorang pedagang yang berpenghasilan mencapai 10 juta/bulan (laba bersih), apakah terkena wajib zakat baginya?

Al-Ustadz Muhammad as-Sarbini:
Ya, ia terkena zakat uang jika uang tersebut tersimpan sampai setahun (menurut hitungan tahun Hijriyah) tanpa berkurang dari nishab (harga 595 gram perak). Zakatnya sebesar 1/40 (2.5%).
Adapun zakat profesi (penghasilan), tidak disyariatkan. Zakat perdagangan juga tidak disyariatkan menurut pendapat yang rajih (kuat). Wallahu a’lam.

Sumber: Asy Syariah Edisi 086

Tentang SALAT SAMBIL MENGURUSI ANAK KECIL

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz رحمه الله

Pertanyaan:
يقوم أطفالي باللعب أمامي أثناء الصلاة، وشد الجلال من على رأسي، بحيث يخرج شعري أحياناً، وأحياناً أشده من تحتهم حتى أستطيع إكمال صلاتي، وأقوم بكثير من الحركة، إما إبعادهم أو إرجاع الجلال على شعري وجسمي، أو الانتظار حتى ينزلوا من على ظهري، وأحياناً يقومون بدفعي؛ مما يجعلني أتحرك وأمشي خطوات للإمام أو الخلف، هذا رغم تحذيري لهم، ولكن لصغر سنهم لا يستطيعون ولا يفهمون، وأحياناً يشتد الغضب في أثناء الصلاة، وأدفعهم بقوة حتى أستطيع إكمال صلاتي، ما حكم ذلك؟
Ketika saya melaksanakan shalat, sebagian anak-anak saya bermain di hadapanku dan ada yang menarik kerudung di kepalaku sehingga terkadang rambutku kelihatan. Saya berusaha menarik kerudung itu dari bawah agar saya bisa melanjutkan shalat. Akibatnya, saya melakukan banyak gerakan, kadang dengan cara menjauhkan mereka atau mengembalikan kerudungku di atas kepala dan badanku. Juga saya terkadang menunggu anak yang menaiki punggungku bahkan terkadang saya menghalau mereka sehingga saya harus bergerak beberapa langkah ke depan atau belakang.
Walaupun saya sudah mengingatkan mereka, tetapi karena mereka masih kecil, maka mereka belum paham. Terkadang membuat saya sangat marah di tengah-tengah shalat dan saya menghalau mereka sekuat tenaga agar bisa melanjutkan shalat. Apa hukum perbuatan saya ini?

Jawaban:
كل هذا حسن وهذا جهاد منك وأمر مشكور وطيب، وإذا تيسر أن تخرجي في محل بعيد عنهم حتى تسلمي من أذاهم، في غرفة أو حجرة بعيدة عنهم يكون هذا أسلم، وإلا فلا يضرك هذا، هذه الحركة التي لدفعهم لا حرج في ذلك، وكذلك الشعر إذا بدا ثم أعدت الجلال بسرعة لا يضر ذلك، وقد ثبت عنه -صلى الله عليه وسلم- أنه في بعض صلواته وهو ساجد ارتحله الحسن أو الحسين فأطال السجود بعض الشيء من أجل ارتحاله إياه، وقال كرهت أن أبعده -عليه الصلاة والسلام-. فالمقصود أن معالجة الصبية وقت الصلاة بدفعهم عن الأذى أو ما أشبه ذلك لا يضر -إن شاء الله-ولا حرج في ذلك
Perbuatanmu ini baik dan merupakan bentuk jihad bahkan patut untuk disyukuri.
Jika memungkinkan bagimu untuk shalat di tempat yang jauh dari mereka sehingga selamat dari gangguan mereka, misalnya shalat di kamar yang agak jauh dari mereka, maka ini lebih selamat.
Dan kalau tidak memungkinkan, maka perbuatanmu tadi tidak mengapa. Gerakanmu untuk menghalau mereka tidak mengapa, demikian juga rambut yang terkadang nampak tetapi kemudian kamu kembalikan lagi kerudungmu yang menutupi rambutmu, tidak mengapa.
Dan telah ada hadits dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya pada sebagian shalat beliau, ketika beliau sujud, Hasan dan Husain menaiki punggung beliau hingga beliau memanjangkan sujudnya dikarenakan naiknya mereka ke atas punggung beliau dan beliau mengatakan: Aku tidak ingin menjauhkan dia.
Maka kesimpulannya, mengurusi anak kecil ketika shalat baik itu menghalau gangguan mereka atau yang semisalnya tidaklah membahayakan shalat, insya Allah, dan juga tidak berdosa.

Sumber:
www .binbaz .org .sa/node/14403

Alih bahasa: Syabab Forum Salafy

Forum Salafy Indonesia

###

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله

Pertanyaan:
ما حكم الشريعة الإسلامية في امرأة تصلي وولدها يمسك بيدها وهي تصلي ويقعد على محل السجود، وعندما تسجد تُمسك بذراع الطفل لكي تتمكن من السجود، هل تصح الصلاة؟
Bagaimana hukum Syariat Islam tentang seorang wanita yang shalat, sang anak memegang tangan ibunya dan anak itu duduk di tempat sujud ibunya. Ketika sujud, dia memegang lengan sang anak agar dia bisa sujud dengan sempurna. Apakah shalat dia sah?

Jawaban:
نعم، لا بأس، تمسك بيده حتى لا يقع فيه شيء، وحتى لا يذهب إلى ما يضره، وإذا جلس في محل السجود نحته عنها وسجدت، لا بأس، إذا كان ما في يده نجاسة ، ولا في محله نجاسة رطبة، تنجس محل السجود، بل هو يابس لا يضر ذلك، وقد كان عليه الصلاة والسلام يحمل أمامة بنت زينب، بنت بنته ويصلي بها والناس خلفه عليه الصلاة والسلام، فإذا سجد وضعها في الأرض، وإذا قام حملها على كتفه عليه الصلاة والسلام، ليبين للناس أن الأمر فيه سعة والحمد لله، وأن هذا الدين فيه سعة
Ya. Tidak mengapa. Peganglah tangannya agar tidak tertimpa sesuatu. Agar dia tidak pergi ke tempat berbahaya. Jika dia sujud di tempat sujud, maka geser dia sedikit, kemudian sujudlah, tidak mengapa, jika di tangannya tidak ada najis dan tidak ada pula di tempat sujud najis yang basah yang bisa menajiskan tempat sujud. Adapun najis kering maka tidak mengapa.
Nabi shallallaahu alayhi wa sallam pernah shalat dengan menggendong Umamah bintu Zainab, anak wanita dari anak wanita beliau. Beliau shalat dengan menggendong Umamah dan para shahabat di belakang sebagai makmum. Jika beliau sujud, maka Umamah diletakkan di lantai. Jika beliau bangkit, Umamah digendong di atas pundak beliau alaihish shalaatu was salaam dalam rangka menjelaskan kepada ummat bahwa yang seperti ini ada kelonggaran, Alhamdulillah. Dan syariat agama ini penuh dengan kelonggaran.

Sumber:
www .binbaz .org .sa/mat/14780

Alih bahasa: Syabab Forum Salafy

Forum Salafy Indonesia

###

Asy Syaikh Ubaid bin Abdillah al Jabiry حفظه الله

Pertanyaan:
جزاكم الله خير شيخنا، وهذا السؤال العاشر؛ تقول السائلة من ليبيا: عندي ابنةٌ صغيرة، وغالبًا ما تقطع عليَّ صلاتي بالبكاء؛ فهل يجوز لي أن أقطع صلاتي عندما أسمع بكاءها لأني لا أشعر بالطمأنينة؟ مع العلم أن هذه الحالة أي بكاؤها أثناء الصلاة- تتكرَّر معي بشكلٍ يومي
Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan wahai Syaikh kami.
Pertanyaan kesepuluh: Seorang Wanita dari Libya bertanya: Saya memiliki anak wanita yang masih kecil dan seringnya dia memutus sholatku karena tangisannya. Apakah boleh saya memutus sholat karena mendengar tangisannya?
Dikarenakan saya sudah tidak khusyu lagi, dan kejadian ini hampir terus terulang setiap harinya?

Jawaban:
أولًا: يا بنتي كان من هديه صلَّى الله عليه وسلَّم- أنه يدخل في الصلاة ليطيلها فإذا سمع بكاء الصبي خَفَّف رفقًا بأمِّه، فأقول لك: إذا بكت ابنتك فخَفِّفي الصلاة، وصلاتك صحيحة لا يضرك، لأن هذا عذر شرعي
Yang pertama: 
Wahai putriku. Sungguh di antara petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika beliau sholat dan hendak memanjangkan sholatnya, akan tetapi ketika beliau mendengar suara tangisan anak kecil maka beliau meringankan sholatnya, dalam rangka mengasihi ibu anak tersebut. Maka saya katakan kepadamu agar engkau meringankan sholatmu jika mendengar tangisan anak kecilmu tersebut, dan sholatmu tetap sah dikarenakan ini udzur Syari.
وثانيًا: إذا وَصَلَ الأمر إلى أن ابنتك يحصل لها من شدة البكاء ما يُشْبِه الصرع، وتَتَشَنَّج؛ ففي هذه الحال رَضِّعيها، ألقميها الثدي؛ فإنه يهَدِّئها، وإن كنت أحضرتِ لها شيئًا من الطعام فلَقِّميها أثناء الصلاة شيئًا؛ فهذا يُلهيها حتى تؤدِّي صلاتك إن شاء الله تعالى
Yang kedua:
Jika tangisan anakmu sudah sangat kuat sampai pada tingkatan seperti orang yang kemasukan, maka pada keadaan ini segera susui dia dikarenakan itu yang bisa menenangkannya, jika kamu punya sedikit makanan maka suapkan dia di tengah-tengah sholat, maka ini bisa sedikit memalingkan dia (dari tangisannya) sehingga kamu bisa meneruskan sholatmu.
الثالث: إذا تَشَنَّجَت تَشَنٌّجا قويًّا لا تستطيعين إتمام الصلاة معه إلَّا بقطعِ صلاتك؛ فاقطعي صلاتك واستعملي لها ما يُهدئها من الرَّش بالماء، أو إذا كان هناك أدوية تعطينها إياها، ثم إذا هدأت البنت تعودين إلى صلاتك، وتُعيدينها وأنتِ مأجورة إن شاء الله تعالى-، والله أعلم
Yang ketiga:
Mengamuk dengan sangat kuat, sehingga anda tidak bisa menyempurnakan sholat kecuali dengan memutusnya, maka putuskanlah sholatmu dan segera tenangkan dia dengan percikan air atau obat yang bisa menenangkannya. Dan kalau dia sudah tenang maka lanjutkan sholat anda.
Insyaa Allah anda mendapatkan pahala (dengan perbuatan ini). Wallohu alam.

Sumber:
www .sahab .net/forums/index .php?showtopic=143291#entry687248

Alih bahasa: Syabab Forum Salafy

Forum Salafy Indonesia